MRC No One Knows: Dari Rakit Bambu, Gelaralam hingga Bunga Ayu, Touring 21 Rider Menyusuri Wajah Sukabumi

- Jurnalis

Selasa, 22 September 2026 - 20:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUKABUMI 22/09/2026.— Sebanyak 21 peserta Manja Rider Community (MRC) menjalani perjalanan touring bertajuk “MRC No One Knows” pada 18–20 September 2026. Bukan sekadar perjalanan menggunakan sepeda motor, kegiatan tersebut menjadi rangkaian pengalaman yang mempertemukan peserta dengan jalur pedesaan, penyeberangan rakit bambu, kawasan pegunungan, lingkungan Kasepuhan Gelaralam hingga pesisir Pelabuhan Ratu.

Peserta datang dari sejumlah wilayah, antara lain Bogor, Tangerang, Jakarta, Bekasi, dan Depok. Rombongan berangkat dari kawasan Cibinong dan menempuh perjalanan menuju Bogor Barat, kemudian bergerak ke wilayah Sukabumi hingga Kasepuhan Gelaralam melalui kawasan Gunung Bongkok.

Nama “No One Knows” dipilih karena sebagian rute perjalanan memang tidak seluruhnya dibuka kepada peserta sejak awal. Konsep tersebut menjadi bagian dari pengalaman touring yang mengutamakan rasa penasaran, kebersamaan, dan kemampuan peserta menghadapi perubahan medan perjalanan.

Menurut catatan perjalanan Ketua MRC, Jihan Ibnu, dari 24 peserta yang semula mendaftar, sebanyak 21 orang akhirnya mengikuti perjalanan. Rombongan memulai perjalanan pada Jumat, 18 September 2026, sekitar pukul 07.00 WIB setelah berkumpul di titik keberangkatan.

Dari Jalan Raya hingga Rakit Bambu

Perjalanan MRC tidak seluruhnya berlangsung di jalur utama. Memasuki kawasan Bogor Barat, rombongan menghadapi sejumlah karakter medan yang berbeda, termasuk penyeberangan sungai menggunakan rakit bambu atau getek tradisional.

Dokumentasi MRC memperlihatkan sejumlah sepeda motor berada di atas rakit bambu ketika menyeberangi sungai. Rombongan juga melewati jembatan gantung dan sejumlah ruas jalan dengan permukaan yang lebih menantang.

Bagi peserta, kondisi tersebut menjadi bagian dari pengalaman perjalanan. Kecepatan bukan menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan touring. Kondisi kendaraan, kemampuan pengendara, komunikasi antarpeserta, serta perhatian terhadap keselamatan menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan komunitas.

Selepas kawasan Leuwiliang, rombongan sempat berhenti untuk makan siang dan menunaikan salat Jumat sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kabandungan.

Di wilayah tersebut, peserta juga menikmati buah durian lokal yang dalam catatan perjalanan disebut antara lain jenis Simas, Matahari, dan Bawor lokal.

Menembus Malam Menuju Kasepuhan Gelaralam

Dari Kabandungan, perjalanan berlanjut menuju Pelabuhan Ratu sebelum rombongan kembali mengambil jalur menuju kawasan Gunung Bongkok dan Kasepuhan Gelaralam.

Menurut catatan Jihan, rombongan tiba di kawasan Gelaralam sekitar pukul 01.00 WIB pada Sabtu, 19 September 2026.

Sebagian peserta bermalam di tempat Kang Yoyo, sementara sebagian lainnya menginap di Imah Gede.

Pagi hingga siang hari dimanfaatkan peserta untuk melihat lingkungan Kasepuhan Gelaralam. Dokumentasi memperlihatkan rombongan berfoto di depan penanda Kasepuhan Gelaralam dan kawasan Imah Gede.

Kunjungan tersebut juga berlangsung ketika masyarakat setempat tengah melakukan persiapan menuju pelaksanaan Seren Taun pada pekan berikutnya berdasarkan informasi yang diterima rombongan.

MRC tidak mengikuti prosesi Seren Taun. Kunjungan mereka merupakan bagian dari perjalanan dan persinggahan sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya.

Kehadiran rombongan di lingkungan masyarakat adat juga menjadi pengingat bahwa kegiatan wisata dan touring perlu memperhatikan tata krama lokal. Menghormati ruang masyarakat, meminta izin ketika diperlukan, serta tidak mengganggu aktivitas warga merupakan bagian penting ketika komunitas luar berkunjung ke wilayah adat.

Dari Gelaralam Menuju Bunga Ayu

Pada Sabtu sore, rombongan meninggalkan Gelaralam dan bergerak kembali menuju kawasan Pelabuhan Ratu melalui Cipta Mulya dan Sinaresmi.

Setelah menempuh perjalanan pegunungan, rombongan kemudian bermalam di Bunga Ayu Seaside Resort di Pelabuhan Ratu.

Menurut keterangan Jihan, rombongan memesan dua vila dan tiga kamar untuk kebutuhan menginap. Kedatangan mereka disebut disambut oleh pengelola yang akrab disapa Opunk.

Malam tersebut menjadi waktu bagi peserta untuk beristirahat sekaligus mempererat kebersamaan. Rombongan menikmati makan malam yang menurut catatan perjalanan terdiri dari kambing guling, ikan blue marlin dan cumi berukuran jumbo.

Setelah perjalanan panjang, suasana malam diisi dengan berbagi cerita, acara bebas dan karaoke.

Minggu pagi, 20 September 2026, peserta menikmati sarapan kemudian turun ke kawasan pantai melalui akses dari resort.

Dari medan pegunungan dan jalur pedesaan, perjalanan akhirnya ditutup dengan suasana pesisir selatan Sukabumi yang menghadap Samudra Hindia.

Touring Tak Hanya Soal Motor, tetapi Juga Perjumpaan

Rangkaian perjalanan MRC memperlihatkan bahwa touring komunitas tidak selalu berhenti pada tujuan utama.

Warung makan, penjual buah, penginapan, tempat singgah, kawasan adat, hingga pelaku usaha lokal menjadi bagian dari pengalaman perjalanan.

Setiap rombongan yang datang membawa kebutuhan konsumsi, tempat beristirahat dan berbagai layanan lainnya. Kondisi tersebut secara tidak langsung membuka peluang transaksi bagi pelaku usaha di daerah yang dilewati maupun menjadi tujuan perjalanan.

Karena itu, kegiatan touring komunitas juga dapat menjadi bagian dari promosi wisata apabila dilakukan dengan tetap menghormati masyarakat setempat dan tidak mengubah fakta mengenai suatu destinasi.

Promosi yang baik bukan hanya menampilkan pemandangan, tetapi juga memperkenalkan masyarakat dan pelaku usaha yang berada di balik destinasi tersebut.

Dari Pelabuhan Ratu, Pulang Membawa Cerita

Sebelum meninggalkan Pelabuhan Ratu, rombongan kembali mengabadikan kebersamaan di kawasan resort.

Perjalanan pulang kemudian mengambil jalur Pelabuhan Ratu–Cikidang–Parungkuda–Caringin–Bogor sebelum peserta berpencar menuju daerah masing-masing.

Dalam tiga hari, 21 peserta MRC melewati rangkaian pengalaman yang cukup beragam: menyeberangi sungai menggunakan rakit bambu, melintasi jembatan gantung, menikmati kuliner dan buah lokal, menembus jalur pegunungan hingga dini hari, mengunjungi lingkungan Kasepuhan Gelaralam, kemudian beristirahat di kawasan pesisir Pelabuhan Ratu.

Perjalanan tersebut sekaligus menunjukkan wajah lain Sukabumi—bukan hanya tentang satu objek wisata, tetapi tentang jalur perjalanan, masyarakat, budaya, kuliner, alam dan tempat-tempat persinggahan yang membentuk sebuah pengalaman utuh.

Bagi MRC, nama acaranya mungkin “No One Knows”, tetapi perjalanan selama tiga hari itu meninggalkan satu hal yang jelas: pengalaman baru, cerita yang panjang, dan persaudaraan yang terus dibawa pulang.

“MRC, Huuuu Haaaa!!! Gaspolll, Tetap Satu Saudara!!!”

Catatan redaksi:
Informasi dalam tulisan ini disusun berdasarkan catatan perjalanan Ketua Manja Rider Community dan dokumentasi yang disampaikan MRC. Informasi mengenai destinasi dan fasilitas pendukung digunakan secara terbatas sebagai konteks. Rute perjalanan bukan panduan navigasi yang terverifikasi. Kondisi akses, cuaca, keselamatan kendaraan, izin setempat dan kondisi penyeberangan perlu diperiksa kembali oleh setiap pihak sebelum melakukan perjalanan.

Tri

Follow WhatsApp Channel utamapost.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tokoh Perempuan Papua Pegunungan Rida Kogoya Salurkan Bantuan Rp15 Juta untuk Konferensi Gereja Baptis Wilayah Dimba
Polresta Cirebon Musnahkan Ribuan Botol Miras dan 4.841 Knalpot Brong, Hasil Operasi Sebulan Terakhir
Oknum Pemain Solar di Kabupaten Bogor
Polisi Peduli Pendidikan, Kapolsek VII Koto Ilir Tanamkan Disiplin dan Cegah Bullying Di SDN 05 Balai Rajo
Waka Polres Dharmasraya Jadi Pembina Upacara di SMPN 2 Pulau Punjung, Ajak Pelajar Jauhi Bullying dan Tawuran
Jambore Relawan 2026 di Pantai Larangan, Ratusan Relawan Kabupaten Tegal Digembleng Hadapi Medan Ekstrem
Tujuh Tahun Berkarya, Forsilista Pekanbaru Mantapkan Langkah Menuju Organisasi yang Lebih Bermanfaat bagi Umat
Perkuat Tata Kelola Pemerintahan, Wali Kota Cirebon Effendi Edo Tegaskan Pentingnya Integritas dan Pengawasan Anggaran

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 08:31 WIB

Tokoh Perempuan Papua Pegunungan Rida Kogoya Salurkan Bantuan Rp15 Juta untuk Konferensi Gereja Baptis Wilayah Dimba

Selasa, 3 November 2026 - 06:03 WIB

Polresta Cirebon Musnahkan Ribuan Botol Miras dan 4.841 Knalpot Brong, Hasil Operasi Sebulan Terakhir

Senin, 2 November 2026 - 17:28 WIB

Polisi Peduli Pendidikan, Kapolsek VII Koto Ilir Tanamkan Disiplin dan Cegah Bullying Di SDN 05 Balai Rajo

Senin, 2 November 2026 - 13:36 WIB

Waka Polres Dharmasraya Jadi Pembina Upacara di SMPN 2 Pulau Punjung, Ajak Pelajar Jauhi Bullying dan Tawuran

Senin, 2 November 2026 - 08:37 WIB

Jambore Relawan 2026 di Pantai Larangan, Ratusan Relawan Kabupaten Tegal Digembleng Hadapi Medan Ekstrem

Berita Terbaru