Dugaan Kolusi SPBU dan Penimbun BBM Solar Bersubsidi Terdeteksi di SPBU Teratak Buluh
Kampar – Dugaan permainan antara operator SPBU dengan pihak yang diduga sebagai penimbun BBM solar bersubsidi kembali muncul di wilayah Kabupaten Kampar. Kasus ini terpantau di SPBU dengan nomor 14.284.6111 yang berlokasi di Jl. Kaharudin Nasution, Kelurahan Teratak Buluh, Kecamatan Siak Hulu. SPBU ini sering juga disebut sebagai SPBU Teratak Buluh atau SPBU Kubang Jaya, Kamis 29/1/2026.
Kegiatan mencurigakan ini teramati oleh awak media saat melakukan pantauan langsung di lokasi. Sebuah unit mobil truk tronton yang baru saja menyelesaikan proses pengisian BBM solar bersubsidi, kembali memasuki jalur antrian untuk melakukan pengisian ulang dalam waktu singkat.
Sebelumnya, awak media mendapatkan informasi awal dari seorang warga setempat yang tidak ingin disebutkan namanya. Menurut sumber tersebut, SPBU bersangkutan diduga secara sengaja menjual BBM bersubsidi kepada seorang pemain besar yang berinisial Edi B. Oknum yang juga dikenal sebagai pengembang perumahan ini diduga memiliki kendali atas pengisian solar bersubsidi di lokasi tersebut.
“Kita dengar kalau ia itu orangnya punya pool armada truk yang lokasinya tidak jauh berada di samping SPBU. Hanya dia dan kelompoknya yang diperbolehkan mengisi ulang berkali-kali, sementara pemain solar lain tidak diizinkan,” ujar sumber tersebut.
Sumber tersebut juga menyampaikan dugaan adanya mekanisme khusus yang digunakan oleh oknum tersebut. “Kemungkinan ia telah memberi deposit di depan sehingga para pemain solar yang lain tidak bisa masuk,” tambahnya.
Ketika dikonfirmasi terkait hal ini, satpam SPBU yang mengaku bernama Adi menyatakan bahwa pihaknya sudah tidak melakukan praktik semacam itu lagi. Menurutnya, seluruh proses pembelian BBM solar bersubsidi saat ini telah dilakukan berdasarkan sistem barcode dan verifikasi nomor plat kendaraan.
“Sudah tidak ada lagi yang seperti itu, sekarang semua berdasarkan aturan. Untuk truk tronton sendiri, hanya diperbolehkan mengisi BBM solar bersubsidi sebanyak 200 liter per kali pengisian,” jelas Adi.
Sementara itu, seorang pria berkaca mata yang menggunakan seragam Pertamina berwarna hitam dan diduga sebagai pengawas SPBU, ketika dijumpai awak media untuk dimintai tanggapan, malah menyatakan bahwa dirinya bukan pengawas. Ia mengaku hanya sebagai tukang bongkar BBM dan tidak dapat memberikan klarifikasi terkait dugaan yang terjadi.
Sampai saat ini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak manajemen SPBU maupun dari dinas terkait serta aparat penegak hukum mengenai dugaan kolusi dan penimbunan BBM bersubsidi yang terjadi di lokasi tersebut.








