” Dalam rangka memperingati Hari Guru, kisah perjuangan seorang pendidik dari pelosok Kabupaten Solok kembali mengingatkan kita bahwa dedikasi seorang guru tidak pernah mengenal batas. Ia adalah Noni Suzelvi, S.Pd.I, perempuan kelahiran Sirukam, 3 Juli 1980, yang kini mengabdikan hidupnya untuk pendidikan di daerah terpencil “.
Kabupaten Solok, utamapost.com |Sejak tahun 2022, Noni mengajar sebagai guru PPPK di SDN 11 Tanjung Balik Sumiso, Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok. Nagari yang terletak dibagian hilir kecamatan tigo lurah kabupaten Solok lebih kurang dihuni 40 kepala keluarga. Untuk sampai ke sekolah tempat ia bertugas, ia harus menempuh perjalanan hampir 3 jam menggunakan sepeda motor, melewati jalan tanah sejauh 12 kilometer, dan medan yang sangat ekstrem. Terkadang ia ikut nebeng mobil offroad ( Double gardan ). Kalau hujan turun kondisi jalan tanahpun mulai tak bersahabat, bahkan sering terjadi longsor.

Sebelumnya, Noni telah mengabdi selama 15 tahun sebagai guru honorer di SDN 07 Sirukam, Payung Sekaki. Namun karena tidak adanya formasi PPPK di sekolah induknya, ia memilih mendaftar ke sekolah lain meski lokasi sangat jauh dari tempat tinggalnya di Jorong Lubuk Pulai, Sirukam.
Tinggal Terpisah dengan Anak dan Suami karena Jalan Longsor
Awalnya, demi kelangsungan tugas, Noni membawa serta kedua anak laki-lakinya yang masih duduk di kelas III dan IV SD, bersama ibunya untuk tinggal di Tanjung Balik. Sementara suaminya yang bekerja sebagai sopir bus, harus bolak-balik dari kampung.
Namun pada awal 2024, bencana longsor menutup akses jalan bagi kendaraan roda empat selama berbulan-bulan. Kondisi itu memaksa keluarga Noni kembali pulang ke Sirukam, sedangkan ia harus tetap menjalankan tugas sebagai guru.

Kini, Noni bolak-balik Sirukam–Tanjung Balik seminggu sekali, melewati jalan tanah yang licin dan berlumpur, bahkan berbahaya saat musim hujan, baginya mendidik dan mengajar tak hanya sekedar kewajiban, tetapi panggilan jiwa mencerdaskan anak bangsa.
Daerah Tanpa Listrik PLN dan Tanpa Sinyal
Tanjung Balik merupakan daerah yang hingga kini masih tanpa listrik PLN dan tanpa sinyal komunikasi. Masyarakat hanya mengandalkan tenaga air (mikrohidro) yang menyala pada sore hingga pagi hari, sementara untuk internet, warga terpaksa membeli voucher WiFi yang hanya aktif 2 hari dengan durasi 14 jam. Sedang untuk listrik sekolah menggunakan Super Sun sebuah perangkat listrik tenaga surya program dari PLN.
“Kami sangat merasakan kendala, terutama saat musim hujan. Keluar masuk sangat sulit. Sinyal juga tidak ada, jadi pembelajaran digital nyaris mustahil,” ujar Noni.

Sekolah Kecil yang Menjadi Harapan Satu-Satunya
SDN 11 Tanjung Balik hanya memiliki 21 siswa. Namun keberadaan sekolah ini sangat vital. Jika ditutup, anak-anak harus menempuh perjalanan 12 km ke sekolah terdekat—jarak yang tidak mungkin ditempuh anak usia SD setiap hari.
Saat ini, sekolah memiliki 4 guru kelas, 1 guru agama, 1 tenaga pendidik, dan 1 kepala sekolah. Noni bahkan memegang dua kelas sekaligus, yaitu kelas 1 dan 2.
Tidak hanya menjadi guru siang hari, Noni juga mengabdikan diri sebagai pengajar mengaji pada malam hari di surau setempat, pendidikan untuk akhirat mesti sejalan dengan pendidikan agama ” Ujar Noni.
Harapan untuk Pemerintah
Dalam momentum Hari Guru ini, Noni menyampaikan harapannya:
“Kami berharap pemerintah pusat melalui pemerintah daerah memperbaiki akses jalan agar tugas kami di sini lebih mudah. Mohon perhatian untuk guru-guru di daerah terpencil seperti Tanjung Balik Sumiso. Kami juga sangat membutuhkan sinyal agar bisa melakukan pembelajaran sesuai perkembangan digital saat ini.”
Guru di Pelosok, Garda Terdepan Masa Depan
Kisah Noni Suzelvi adalah potret perjuangan guru di pedalaman yang sering luput dari perhatian. Di tengah keterbatasan listrik, sinyal, akses jalan, dan jarak yang melelahkan, ia tetap menjalankan tugas mulia, memastikan anak-anak di ujung nagari tetap mendapatkan hak mereka untuk bersekolah.
Di Hari Guru Nasional ini, jerih payah para pendidik seperti Noni mengingatkan kita bahwa masa depan bangsa sesungguhnya dibangun di ruang-ruang kelas kecil yang jauh dari hiruk pikuk kota. ( Abd21 ).









