Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah: Sarana Menyatukan Kepemimpinan Tigo Tungku Sajarangan dan Tigo Tali Sapilin

- Jurnalis

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Basrizal Datuak Panghulu Basa, Ketua Umum Badan Koordinasi Kerapatan Adat Nagari (BAKORKAN) Sumatera Barat


 

Padang (17/06) – Peristiwa hijrah yang menjadi awal penanggalan kalender Islam mengandung makna perubahan besar dari keadaan yang lemah menuju keadaan yang lebih kuat, dari keterpurukan menuju kemajuan, dan dari perpecahan menuju persatuan.

 

Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah bukan sekadar pergantian angka dalam kalender. Ia merupakan momentum untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri), memperkuat persatuan, dan memperbaiki arah perjalanan umat.

 

Bagi masyarakat Minangkabau, semangat hijrah seharusnya menjadi momentum untuk mengonsolidasikan (menyatukan) kembali kekuatan kepemimpinan adat, agama, dan pemerintahan yang dikenal dengan konsep Tigo Tungku Sajarangan dan Tigo Tali Sapilin.

 

Dalam falsafah Minangkabau, Tigo Tungku Sajarangan terdiri dari Niniak Mamak, Alim Ulama, dan Cadiak Pandai. Ketiganya ibarat tungku berkaki tiga yang menopang satu periuk kehidupan masyarakat. Bila satu kaki rapuh, maka tungku akan goyah. Sedangkan Tigo Tali Sapilin menggambarkan eratnya ikatan dan sinergi ketiga unsur tersebut dalam memimpin, membimbing, dan melayani masyarakat.

 

Dahulu, ketiga unsur ini berjalan seiring. Niniak mamak menjaga adat dan kekerabatan, alim ulama membimbing akhlak dan spiritualitas umat, dan cadiak pandai memberi arah pemikiran dan kemajuan. Mereka duduk bersama dalam setiap persoalan nagari, mencari mufakat untuk kepentingan bersama.

 

Namun realitas hari ini menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Kepemimpinan yang dahulu sajarangan terasa semakin berubah menjadi “bajarangan”. Masing-masing berjalan sendiri-sendiri, bahkan terkadang saling berjauhan. Adat kehilangan wibawa, agama kehilangan pengaruh sosial, dan kaum intelektual sering terjebak dalam pragmatisme politik maupun kepentingan sesaat.

 

Ditengah derasnya arus globalisasi, revolusi digital, narkoba, LGBT, pergaulan bebas, korupsi, judi online, kekerasan sosial, dan berbagai bentuk demoralisasi, masyarakat Minangkabau menghadapi tantangan yang tidak ringan. Ancaman hari ini bukan lagi sekadar kemiskinan ekonomi, tetapi juga kemiskinan nilai dan krisis keteladanan.

 

Dalam situasi seperti ini, peran alim ulama menjadi sangat penting. Ulama tidak cukup hanya menjadi pengisi mimbar dan pemberi ceramah seremonial. Ulama harus hadir sebagai penjaga moral masyarakat, pengawal nilai-nilai Islam, sekaligus menjadi suara kebenaran yang berani mengingatkan pemimpin ketika menyimpang dan membela rakyat ketika dizalimi. Sebagaimana pepatah Minangkabau: “jikok hiduik tampak banazar, jikok mati tampak baniat.” Artinya, setiap tindakan harus dilandasi nilai dan tujuan yang benar. Ulama harus menjadi pelita yang menerangi ketika masyarakat mulai kehilangan arah.

 

Demikian pula niniak mamak harus kembali menjalankan fungsi pembinaan terhadap anak kemenakan, sementara cadiak pandai harus menggunakan ilmu dan kecerdasannya untuk kemaslahatan masyarakat, bukan sekadar mengejar kedudukan dan kepentingan pribadi.

 

Momentum tahun baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriyah hendaknya menjadi panggilan untuk mengembalikan ruh kepemimpinan Minangkabau yang sesungguhnya. Tigo Tungku Sajarangan harus kembali menjadi tungku yang kokoh, bukan tungku yang retak dan tercerai-berai. Tigo Tali Sapilin harus kembali dipilin kuat, bukan terurai oleh kepentingan-kepentingan sempit.

 

Karena sesungguhnya kemajuan suatu nagari tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kuatnya moral, adat, dan spiritualitas masyarakatnya. Sebagaimana petuah adat mengingatkan: “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah; syarak mangato, adat mamakai.”

 

Jika adat, agama, dan ilmu pengetahuan kembali berjalan seiring, maka Minangkabau akan tetap tegak menghadapi tantangan zaman. Tetapi jika ketiganya terus berjalan sendiri-sendiri, maka yang lahir bukan lagi kekuatan peradaban, melainkan kegamangan sosial yang mengkhawatirkan. (FF)

Follow WhatsApp Channel utamapost.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menjaga Kesucian Diri dan Martabat ASN: Mengakar pada Iman, Merawat Bahagia di Rumah
KMPSB Desak Pertamina Bertanggung Jawab, Copot SAM Retail Sumbar dan Bongkar Dugaan Mafia Solar Bersubsidi
Refleksi HUT ke 81 RI : Pemuda Penjaga Api Kemerdekaan
Polemik SPMB SMAN 1 Gunung Talang, 16 Orang Tua Resmi Lapor Berjenjang
Marwah Adab dan Kemandirian Ekonomi: Mengapa Bengkalis Mutlak Menjadi Ibu Kota Provinsi Riau Pesisir
Dinamika Yang Tak Kunjung Usai HMI Cabang Padang
Bupati Annisa Sidak PT DL, Pertanyakan Dasar Penurunan Harga Sawit yang Rugikan Petani
Dharmasraya Raih Opini WTP Murni dari BPK RI untuk LKPD 2025
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 26 Agustus 2026 - 16:45 WIB

Menjaga Kesucian Diri dan Martabat ASN: Mengakar pada Iman, Merawat Bahagia di Rumah

Minggu, 23 Agustus 2026 - 16:41 WIB

KMPSB Desak Pertamina Bertanggung Jawab, Copot SAM Retail Sumbar dan Bongkar Dugaan Mafia Solar Bersubsidi

Selasa, 18 Agustus 2026 - 06:23 WIB

Refleksi HUT ke 81 RI : Pemuda Penjaga Api Kemerdekaan

Jumat, 14 Agustus 2026 - 11:01 WIB

Polemik SPMB SMAN 1 Gunung Talang, 16 Orang Tua Resmi Lapor Berjenjang

Kamis, 30 Juli 2026 - 17:38 WIB

Marwah Adab dan Kemandirian Ekonomi: Mengapa Bengkalis Mutlak Menjadi Ibu Kota Provinsi Riau Pesisir

Berita Terbaru