Oleh: Wan Abud
Maraknya pemberitaan mengenai kasus asusila yang melibatkan Oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) di Sumatera Barat—mulai dari tingkat nagari, kabupaten, kota, hingga provinsi—sungguh mengelus dada.
Fenomena maraknya penyimpangan moral ini seolah-olah menjadi hal yang lumrah dan kehilangan rasa malu. Padahal, Ranah Minang tersohor dengan filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABSSBK).
Fenomena ini tidak hadir secara tiba-tiba. Dalam kacamata Islam, perbuatan tercela yang dilakukan secara sadar merupakan cermin dari rapuhnya benteng iman di dalam dada. Ketika hati kosong dari rasa taqwa dan muraqabah (merasa selalu diawasi oleh Allah SWT), maka rasa malu yang menjadi perisai seorang mukmin akan runtuh. Rasulullah SAW bersabda:
”Malu dan iman itu adalah dua hal yang selalu bergandengan. Jika salah satunya diangkat, maka diangkat pulalah yang lainnya.” (HR. Al-Hakim)
Di samping pengawasan hukum dan norma sosial yang harus diperketat, akar permasalahan ini sering kali bersumber dari ketidakmampuan menundukkan hawa nafsu dan kurangnya rasa syukur atas pasangan hidup yang sah. Pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama: Apakah hidangan di rumah sudah tidak lagi memikat, ataukah lidah ini yang terlalu biasa mencicipi hidangan luar yang haram?
Islam menyuruh umatnya untuk senantiasa menanamkan rasa syukur dan memupuk sugesti positif terhadap pasangan sahnya. Menjaga pandangan (ghaddul bashar) serta meyakini bahwa rezeki dan kenikmatan yang halal jauh lebih nikmat, aman, dan membawa keberkahan adalah kunci keselamatan rumah tangga.
Kalimat sugesti sederhana seperti, “Istriku adalah tempat pulang terbaik dan tercantik untukku,” bukan sekadar kata-kata manis, melainkan bentuk ikhtiar batin untuk merawat keridaan Allah dalam pernikahan.
Seluruh pembenahan moral ini mesti berawal dari perbaikan ibadah, khususnya shalat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
”Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)
Jika salat dilakukan dengan khusyuk dan benar, ia akan menjadi perisai kokoh yang membentengi seorang hamba dari godaan maksiat, baik saat bertugas sebagai pelayan masyarakat maupun dalam kehidupan pribadi. Jangan pernah tinggalkan nilai-nilai agama hanya demi menuruti bisikan nafsu yang sesaat.
Sudah saatnya seluruh elemen masyarakat, khususnya para ASN yang menjadi teladan publik, kembali mengetuk pintu hati masing-masing: memperkuat iman, merawat rumah tangga dengan rasa syukur, dan menjadikan nilai Islam sebagai benteng utama dalam menjalankan amanah kehidupan. ( abd21)










