” Hidup memang tak selalu indah, perjuangan Fajar merajut asa ke Kairo menuntut ilmu tak pernah padam, walau mesti berebut antara kebutuhan makan dan sekolah “
Solok, utamapost.com |Kegigihan seringkali lahir dari keterbatasan, dan dari sanalah kisah Fajar bermula. Di balik seragam Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Solok yang dikenakannya, tersimpan tanggung jawab besar seorang anak muda yang tak kenal lelah demi menyambung hidup, biaya sekolah, dan keluarganya.
Remaja asal Nagari Paninggahan kecamatan Junjung Sirih Kabupaten Solok, ini sama sekali tidak pernah malu dengan pekerjaannya. Berjalan dari satu peluh ke peluh lainnya, Fajar pernah menjadi buruh ladang, bahkan terkadang harus mengorbankan waktu belajarnya demi mendapatkan upah harian. Bagi Fajar, dapur yang tetap ngebul dan kelanjutan sekolahnya adalah prioritas yang tak bisa ditawar. Keseharian berjalan kaki kesekolah untuk menuntut ilmu sudah biasa ia lakoni.

Di tengah kerasnya perjuangan hidup itu, hari-hari Fajar kian diuji dengan kesendirian. Ia tinggal terpisah dari orang tuanya dan memilih menginap di sebuah surau—Surau Sapan, Jorong Limo Ninik, Nagari Koto Sani. Di sanalah, di atas tikar surau yang sederhana, ia beristirahat setelah lelah seharian, merajut mimpi di antara sunyinya malam.
Kini, keseharian Fajar diisi dengan menjajakan kacang rebus. Ia mulai mangkal dari pukul 5 sore hingga pukul 11 malam dipelataran mini market Orchard Tanah Garam Kota Solok. Prinsipnya tegas: ia tidak akan pernah melangkahkan kaki pulang ke tempat peristirahatannya sebelum seluruh dagangannya habis terjual. Dari kerja keras tanpa kenal lelah itu, omset maksimal yang berhasil ia kumpulkan berkisar Rp200 ribu per hari—buah manis dari keringat yang tumpah di jalanan.
Namun, di sela-sela lelahnya mengupas waktu demi lembaran rupiah, secercah harapan besar tengah diperjuangkannya. Saat ini, Fajar sedang menjalani tahap tes terakhir untuk memperebutkan beasiswa melanjutkan studi ke Kairo, Mesir, seusai ia menamatkan pendidikannya di MAN 2 Solok nanti.
Dari dinginnya malam di Surau Sapan dan hangatnya semangat di balik dagangan kacang rebusnya, doa dan asa Fajar melambung tinggi. Kisahnya membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi dan kesendirian bukanlah dinding pembatas mimpi, melainkan bahan bakar utama untuk menembus batas dunia. ( abd21)










