Utamapost.com – Setiap musim hujan datang, satu kata yang hampir pasti muncul dalam berita adalah banjir. Judul-judul media dipenuhi laporan rumah terendam, jalan lumpuh, sekolah diliburkan, dan warga mengungsi. Anehnya, meskipun banjir terjadi hampir setiap tahun, seolah-olah kita sudah terlalu terbiasa. Banjir tidak lagi mengejutkan, melainkan dianggap sebagai rutinitas musiman yang mau tidak mau harus diterima.
Padahal, jika dipikirkan lebih jauh, banjir bukanlah kejadian alam semata. Hujan memang faktor utama, tetapi hujan tidak seharusnya otomatis berujung pada genangan air di mana-mana. Banjir yang terus berulang menunjukkan adanya persoalan serius dalam cara kita mengelola lingkungan, tata kota, dan kebiasaan hidup sehari-hari.
Di banyak daerah, hujan dengan intensitas sedang saja sudah cukup untuk membuat jalan tergenang. Saluran air meluap, sungai tidak mampu menampung debit air, dan permukiman warga berubah menjadi kolam dadakan. Ini menandakan bahwa sistem drainase kita tidak bekerja sebagaimana mestinya. Saluran yang seharusnya menjadi jalur air justru tersumbat sampah, tanah, dan endapan lumpur yang tidak pernah dibersihkan secara rutin.
faktor-faktor yang mempengaruhi serta kebiasaan buruk manusia!

ilustrasi pembuangan sampah sembarangan dan pembalakan hutan secara liar.
Sampah menjadi salah satu penyebab banjir
yang paling sering dibicarakan, namun ironisnya juga paling sering diabaikan. Masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan, termasuk ke selokan dan sungai. Alasannya beragam, mulai dari kebiasaan lama, kurangnya fasilitas, hingga anggapan bahwa satu kantong sampah tidak akan berdampak besar. Padahal, jika kebiasaan ini dilakukan oleh ribuan orang setiap hari, dampaknya jelas sangat merugikan. Menurut data yang dipakai pemerintah dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, jumlah timbulan sampah nasional diperkirakan sekitar ± 56,9 juta ton per tahun pada periode sekitar 2025–2026.
Selain sampah masalah utama pemicu banjir yaitu pembangunan yang tidak terkendali. Deforestasi merupakan salah satu penyebab utama meningkatnya bencana banjir. Ketika hutan ditebang, fungsi alami hutan sebagai penyerap air hujan hilang,tanpa perlindungan akar pohon, tanah mudah tererosi dan membuat sungai menjadi dangkal. Akibatnya, banjir semakin sering terjadi, terutama saat musim hujan. Kondisi ini menunjukkan bahwa deforestasi bukan hanya soal hilangnya hutan, tetapi juga ancaman nyata bagi keselamatan masyarakat. Deforestasi masih menjadi masalah utama dalam kondisi hutan Indonesia. Meskipun pemerintah telah menurunkan laju kehilangan hutan dalam beberapa tahun terakhir, kenyataannya pembukaan hutan masih terus terjadi di berbagai daerah. Aktivitas seperti pembukaan lahan untuk perkebunan, pertambangan, dan penebangan liar menjadi penyebab utama berkurangnya luas hutan. Banyak daerah resapan air yang berubah fungsi menjadi perumahan, pusat perbelanjaan, atau kawasan industri. Tanah yang dulunya mampu menyerap air kini tertutup beton dan aspal. Akibatnya, air hujan tidak memiliki tempat untuk meresap dan akhirnya mengalir ke permukaan, sehingga terjadi banjir.
Pembangunan memang penting untuk pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan tempat tinggal. Namun, pembangunan yang mengabaikan keseimbangan lingkungan hanya akan menciptakan masalah baru di kemudian hari. Sayangnya, pertimbangan lingkungan sering kali kalah oleh kepentingan jangka pendek. Selama proyek berjalan dan keuntungan didapat, dampak jangka panjang seperti banjir kerap tidak menjadi prioritas utama.
Dampak banjir di berbagai sektor

ilustrasi dampak banjir disegala aspek.
Dampak banjir tidak bisa dianggap sepele. Selain kerugian materi, banjir juga membawa risiko kesehatan. Air kotor yang bercampur limbah dapat menyebabkan berbagai penyakit, seperti diare, leptospirosis, dan infeksi kulit. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan. Belum lagi trauma psikologis yang dialami warga ketika rumahnya terendam berulang kali tanpa solusi yang jelas.
Di sisi lain, banjir juga berdampak pada aktivitas ekonomi. Pasar sepi, distribusi barang terhambat, dan banyak pekerja tidak bisa berangkat karena akses jalan terputus. Bagi masyarakat berpenghasilan harian, satu atau dua hari tidak bekerja sudah sangat memengaruhi kondisi ekonomi keluarga. Jika banjir berlangsung lama, dampaknya bisa terasa berbulan-bulan setelah air surut.
Upaya penanggulangan dan pencegahan banjir dari seluruh elemen
Pemerintah tentu memiliki peran besar dalam penanganan banjir. Normalisasi sungai, perbaikan drainase, pembangunan waduk, dan ruang terbuka hijau sering dijadikan solusi. Namun, upaya ini sering kali terkesan tambal sulam. Proyek dilakukan setelah banjir besar terjadi, bukan sebagai langkah pencegahan jangka panjang. Akibatnya, masalah yang sama terus berulang setiap tahun.
Selain itu, koordinasi antarinstansi juga menjadi tantangan tersendiri. Penanganan banjir melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah pusat, daerah, hingga tingkat kelurahan. Jika koordinasi tidak berjalan baik, kebijakan yang dibuat bisa saling tumpang tindih atau justru tidak efektif di lapangan. Masyarakat pun akhirnya menjadi pihak yang paling dirugikan.
Namun, menyalahkan pemerintah saja tentu tidak adil. Penanganan banjir membutuhkan peran semua pihak. Masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan sekitar, mulai dari tidak membuang sampah sembarangan, ikut kerja bakti membersihkan saluran air, hingga mendukung kebijakan yang berpihak pada kelestarian lingkungan. Hal-hal sederhana ini sering dianggap remeh, padahal dampaknya sangat besar jika dilakukan secara konsisten.
Pendidikan lingkungan juga perlu diperkuat sejak dini. Anak-anak harus diajarkan bahwa menjaga kebersihan bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga soal keselamatan bersama. Dengan membangun kesadaran sejak kecil, diharapkan kebiasaan buruk yang merusak lingkungan bisa dikurangi di masa depan.
Banjir seharusnya menjadi pengingat bahwa hubungan manusia dengan alam sedang tidak baik-baik saja. Ketika alam “melawan”, itu bukan tanpa sebab. Ada konsekuensi dari setiap tindakan yang kita lakukan, baik secara individu maupun kolektif. Jika kita terus mengabaikan tanda-tanda ini, maka banjir akan tetap menjadi tamu tahunan yang tidak pernah benar-benar pergi.
Sudah saatnya banjir tidak lagi dianggap sebagai hal yang biasa. Kita perlu berhenti bersikap pasrah dan mulai bersikap peduli. Perubahan memang tidak bisa terjadi dalam semalam, tetapi langkah kecil yang dilakukan bersama-sama akan membawa dampak besar. Jika tidak sekarang, lalu kapan lagi? Dan jika bukan kita yang memulai, siapa lagi?
PENULIS: KHODIQOTUL JANNAH
KELAS: 1B ILMU KOMUNIKASI
MATA KULIAH: ILMU POLITIK
DOSEN PENGAMPU: ACHMAD NASHRUDIN PRIATNA S.I.P.,M.M
MAHASISWI FISIP UNIVERSITAS BINA BANGSA










