Cirebon //utamapost.com – Sejumlah siswa dari tiga sekolah di wilayah Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, dilaporkan mengalami keluhan mual, muntah, dan diare setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan oleh salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah tersebut.
Berdasarkan pantauan di RS Siloam Putera Bahagia, Kota Cirebon, sejumlah siswa masih berdatangan untuk mendapatkan penanganan medis.
Kondisi Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang dilaporkan telah penuh membuat sebagian siswa harus dirujuk ke Rumah Sakit Tentara (RST) Ciremai.
“Saat ini di IGD sudah penuh, jadi siswa yang baru datang dirujuk ke RST Ciremai,” ujar salah satu pihak di lokasi.
Sejumlah orang tua siswa yang berada di rumah sakit membenarkan banyaknya siswa yang menjalani pemeriksaan. Bahkan, beberapa pasien disebut memenuhi lorong rumah sakit.
“Banyak sekali sampai ke lorong-lorong,” ungkap salah satu orang tua siswa.
Orang tua siswa lainnya, Agus Bachtiar, mengaku terkejut ketika menerima kabar bahwa anaknya mengalami mual dan muntah setelah menyantap menu MBG di sekolah.
Ia kemudian menghubungi pihak guru untuk menanyakan kondisi anaknya. Namun, dari komunikasi tersebut, Agus mengetahui bahwa keluhan serupa juga dialami sejumlah siswa lainnya.
“Saya telepon gurunya, menanyakan kenapa anak muntah-muntah setelah makan. Ternyata guru menginformasikan bahwa siswa lain juga mengeluhkan hal yang sama,” tuturnya.
Agus segera membawa anaknya ke rumah sakit. Setibanya di lokasi, ia mendapati IGD telah dipenuhi siswa dan orang tua yang datang untuk mendapatkan penanganan medis dengan keluhan serupa.
Menurut Agus, berdasarkan pengakuan anaknya, salah satu menu yang dikonsumsi, yakni telur puyuh, disebut memiliki rasa asam.
“Awalnya saya berpikir anak saya kondisinya sedang kurang enak badan. Tapi ternyata siswa lain juga merasakan hal yang sama setelah mengonsumsi MBG,” bebernya.
Sementara itu, orang tua siswa lainnya, Dony Armando, mengungkapkan bahwa anaknya mulai mengeluhkan sakit perut begitu tiba di rumah.
Peristiwa ini menjadi perhatian serius, mengingat program MBG ditujukan untuk mendukung pemenuhan gizi peserta didik.
Dugaan keterkaitan antara keluhan kesehatan para siswa dan makanan yang dikonsumsi masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan medis serta penyelidikan oleh instansi berwenang.
Pemeriksaan terhadap sampel makanan, penelusuran proses pengolahan dan distribusi, serta pendataan seluruh siswa yang mengalami keluhan menjadi langkah penting untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut.
Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan resmi mengenai penyebab kejadian maupun jumlah keseluruhan siswa yang terdampak. Kondisi para siswa dan hasil pemeriksaan lebih lanjut masih perlu dipantau.
Pihak terkait diharapkan segera melakukan penelusuran secara menyeluruh agar penyebab kejadian dapat diketahui dan langkah pencegahan dapat dilakukan, sehingga keamanan pangan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis benar-benar terjamin.










