TANJUNG BINGKUNG — utamapost.com |Berdiri megah di tengah pemukiman warga, Masjid Raya Tanjung Bingkung menyimpan jejak sejarah panjang nan bernilai tinggi. Didirikan pada tahun 1932 oleh Syeh Mahdum—seorang tokoh ulama ulung asli putra daerah Tanjung Bingkung yang sempat lama merantau dan menimba ilmu di tanah suci Mekkah—masjid ini menjadi simbol perjuangan dakwah dan kebanggaan masyarakat setempat pada masanya.
Secara arsitektur, Masjid Raya Tanjung Bingkung memancarkan pesona klasik yang estetik dan khas. Keindahan seni ukir kuno yang asli masih terjaga rapi pada dinding-dindingnya hingga mimbar kayu nan megah di dalam ruang utama ibadah. Mimbar tersebut dihiasi ukiran bermotif tradisional serta sentuhan ubin ornamental unik yang menegaskan keahlian para pengrajin di era kolonial silam.
Namun, kejayaan dan keindahan bangunan yang telah berusia hampir satu abad ini berbanding terbalik dengan kondisinya hari ini. Masjid yang pernah menjadi pusat syiar Islam dan peradaban warga itu kini memprihatinkan karena minimnya kehadiran jemaah. Karpet-karpet merah di dalam ruang shalat kini lebih sering kosong, menandakan makin redupnya aktivitas ibadah bersama.

Pengurus masjid bukannya tinggal diam. Berbagai upaya jemput bola telah dilakukan secara konsisten, mulai dari mendatangi rumah-rumah warga satu per satu untuk mengajak kembali memakmurkan masjid.
”Kami telah berusaha datangi warga, namun hasilnya belum terlihat,” ujar Nedi, salah seorang pengurus masjid yang tetap istiqomah menjalankan tugasnya, bahkan tetap tegar mengumandangkan azan dan menjadi imam meskipun harus shalat sendirian tanpa makmum.

Keberadaan Masjid Raya Tanjung Bingkung kini menjadi bahan renungan bersama. Warisan sejarah dan arsitektur berharga yang ditinggalkan oleh Syeh Mahdum ini sangat membutuhkan sentuhan kepedulian serta kesadaran kembali dari masyarakat sekitar, agar gema azan dan riuhnya jemaah dapat meramaikan kembali masjid bersejarah ini.
Menanti keseriusan pemerintah nagari
Program magrib mengaji dan Subuh berjamaah seperti himbauan pemerintah daerah kabupaten Solok sepertinya belum terlaksana. Perlu ada evaluasi mendalam terhadap dakwah islam ditengah masyarakat oleh Walinagari. ( abd21)










