Cirebon //utamapost.com — Persoalan sampah di Kabupaten Cirebon kini bukan lagi sekadar menyangkut kebersihan lingkungan.
Tingginya produksi sampah setiap hari berbanding dengan keterbatasan kapasitas pengelolaan dan tempat pemrosesan akhir (TPA), sehingga menjadi tantangan serius bagi pemerintah daerah.
Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon mencatat, produksi sampah masyarakat mencapai sekitar 1.200 hingga 1.260 ton per hari. Angka tersebut menunjukkan besarnya beban pengelolaan sampah yang harus ditangani setiap harinya.
Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan DLH Kabupaten Cirebon, Suyanto, mengatakan sebagian sampah tersebut diangkut menuju TPA Gunung Santri. Volume sampah yang masuk ke lokasi tersebut diperkirakan mencapai sekitar 250 ton per hari.
Menurut Suyanto, tingginya volume sampah yang masuk ke Gunung Santri tidak terlepas dari jumlah armada pengangkut yang melayani wilayah barat Kabupaten Cirebon.
Jumlah kendaraan yang menuju Gunung Santri disebut sekitar dua kali lebih banyak dibandingkan armada yang melayani wilayah Kubangdeleg.
Namun, tingginya kemampuan pengangkutan tersebut belum serta-merta menyelesaikan persoalan. Pasalnya, kapasitas TPA Gunung Santri saat ini juga menghadapi tekanan akibat tingginya volume sampah yang masuk setiap hari.
“Kalau Gunung Santri memang sudah overload. Sampah yang masuk bisa sekitar 250 ton per hari karena jumlah kendaraannya juga lebih banyak, sekitar dua kali lipat dibandingkan wilayah Kubangdeleg,” ujar Suyanto.
Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa persoalan sampah di Kabupaten Cirebon membutuhkan penanganan secara menyeluruh, tidak hanya pada aspek pengangkutan, tetapi juga pengurangan sampah dari sumber, pengelolaan, hingga kesiapan fasilitas pemrosesan akhir.
Dengan produksi sampah yang mencapai lebih dari seribu ton setiap hari, penguatan sistem pengelolaan sampah dan optimalisasi fasilitas menjadi bagian penting agar persoalan kapasitas TPA tidak semakin membesar di kemudian hari.










