ADA ADA SAJA TINGKAH KADIS KESEHATAN INI, DIKRITIK KOK MALAH SEBAR FITNAH. DIMANA FUNGSI SOSIAL KONTROL JURNALISTIK…?

- Jurnalis

Selasa, 26 Agustus 2025 - 15:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Limapuluh Kota ,utamapost.com– Drama panjang seputar kinerja Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Limapuluh Kota, Yulia Masna, memasuki babak baru. Setelah kerap dikritik media atas berbagai kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat, kali ini ia justru balik menebar tuduhan kepada wartawan.

Adalah Agus Suprianto, jurnalis yang selama ini getol menyoroti langkah-langkah kontroversial Dinas Kesehatan, yang menjadi sasaran fitnah. Yulia menuding Agus meminta uang sebesar Rp18 juta lewat proposal, sebuah tuduhan yang segera dibantah keras oleh Agus.

“Saya tidak pernah meminta uang seperti yang dituduhkan. Ini jelas fitnah dan mencemarkan nama baik saya. Saya akan menempuh jalur hukum,” tegas Agus.

 

 

Agus Suprianto, Sang jurnalis yang difitnah Kadis Kesehatan Lima Puluh Kota.
Fitnah yang Beredar Lewat Grup WhatsApp

Informasi fitnah tersebut beredar luas, mulai dari chat WhatsApp kadis ke Ketua Umum LSM Generasi Indonesia Bersih (GIB), hingga beberapa orang lainnya pada Minggu, 24 Agustus 2025. Bahkan, wartawan lain berinisial D disebut-sebut ikut menyebarkan cerita itu, yang kemudian bergulir dari mulut ke mulut.

Namun, bantahan datang dari dalam tubuh Dinas Kesehatan sendiri. Sekretaris Dinas, Deni, mengakui proposal yang dimaksud memang ada, tetapi disposisi dari Kadis justru mengarah kepadanya. “Tidak benar kalau proposal itu untuk meminta uang seperti yang dituduhkan,” ungkap Deni.

Kehabisan Jurus Hadapi Kritik

Kabar fitnah ini memunculkan pertanyaan besar: apakah Yulia Masna sedang kehabisan jurus menghadapi kritik? Selama ini, Yulia dikenal gemar menggembar-gemborkan “prestasi pribadi” yang ternyata hanyalah pencitraan belaka. Ketika sorotan media kian tajam dan publik mendesak Bupati Safni untuk mencopotnya, justru ia menempuh langkah defensif dengan menuding balik pengkritiknya.

Bagi Agus, tindakan Yulia hanyalah bentuk kepanikan seorang pejabat publik yang gagal menjaga integritas. “Pejabat itu digaji dari uang rakyat. Tidak pantas kalau setiap dikritik, malah menebar fitnah untuk membungkam suara pers,” ucapnya kecewa.

Desakan Publik

Gelombang kritik terhadap Yulia bukan hal baru. Dari isu klaim prestasi “abal-abal” hingga carut-marut layanan kesehatan, publik mulai menilai bahwa jabatan Kadis Kesehatan terlalu vital untuk dipimpin oleh figur yang sibuk mengurus citra pribadi. Kini, dengan munculnya kasus fitnah terhadap wartawan, tekanan agar Bupati Safni mengambil sikap tegas semakin kuat.

Sejumlah aktivis menyebut, persoalan ini bukan sekadar soal nama baik seorang jurnalis, tetapi juga cerminan rendahnya kualitas kepemimpinan di tubuh Dinas Kesehatan. Fitnah hanyalah tanda kepanikan: ketika argumen habis, yang tersisa hanyalah serangan pribadi.

Kurangnya pemahaman sebagian pejabat terhadap fungsi sosial kontrol jurnalistik semakin memperlihatkan lemahnya budaya transparansi di tubuh pemerintahan. Alih-alih melihat pers sebagai mitra strategis dalam menyuarakan kepentingan rakyat, tidak sedikit pejabat justru menganggap kritik media sebagai ancaman yang harus dibungkam.

Padahal, dalam kerangka demokrasi, pers berperan sebagai pilar keempat yang mengawasi jalannya roda kekuasaan agar tidak melenceng dari amanah publik. Kritik dan sorotan tajam media bukanlah serangan pribadi, melainkan bentuk kontrol sosial demi perbaikan tata kelola pemerintahan.

Ketidakmampuan pejabat memahami hal ini sering berujung pada sikap defensif, bahkan represif terhadap wartawan. Akibatnya, ruang keterbukaan publik tereduksi dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah semakin tergerus. Seharusnya, pejabat justru menjadikan pemberitaan sebagai alarm dini untuk memperbaiki kebijakan, bukan menutup telinga dari kritik.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka fungsi pers sebagai penjaga demokrasi akan dilemahkan, sementara praktik penyalahgunaan wewenang akan semakin subur. ( Abd21/sp )

 

Follow WhatsApp Channel utamapost.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dukung Kamtibnas, Kelompok Temenggung Roy Serahkan Tiga Pucuk Senjata Api Rakitan Ke Polsek VII Koto
Rawat Persaudaraan di Perantauan, DPP IPPSA Perkuat Konsolidasi Organisasi di Yogyakarta
Polisi Peduli Pendidikan, Kapolsek VII Koto Ilir Tanamkan Disiplin dan Cegah Bullying Di SDN 05 Balai Rajo
Bupati Solok Jon Firman Pandu Melantik Rudi Repenaldi Rilis Sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Solok
Waka Polres Dharmasraya Jadi Pembina Upacara di SMPN 2 Pulau Punjung, Ajak Pelajar Jauhi Bullying dan Tawuran
Gerak Cepat! Kurang dari 24 Jam, Polda Jambi Bekuk 8 Pelaku Penyerangan dan Penembakan Mako Polres Merangin
Sat Reskrim Polres Payakumbuh Amankan Terduga Pelaku Curanmor, Satu Unit Suzuki FU Disita
Wabup Tebo Hadiri Sosialisasi dan FGD Bapas Kelas II Muara Bungo, Perkuat Sinergi Pembinaan dan Reintegrasi Sosial

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 16:01 WIB

Dukung Kamtibnas, Kelompok Temenggung Roy Serahkan Tiga Pucuk Senjata Api Rakitan Ke Polsek VII Koto

Rabu, 4 November 2026 - 19:41 WIB

Rawat Persaudaraan di Perantauan, DPP IPPSA Perkuat Konsolidasi Organisasi di Yogyakarta

Senin, 2 November 2026 - 17:28 WIB

Polisi Peduli Pendidikan, Kapolsek VII Koto Ilir Tanamkan Disiplin dan Cegah Bullying Di SDN 05 Balai Rajo

Senin, 2 November 2026 - 14:09 WIB

Bupati Solok Jon Firman Pandu Melantik Rudi Repenaldi Rilis Sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Solok

Senin, 2 November 2026 - 13:36 WIB

Waka Polres Dharmasraya Jadi Pembina Upacara di SMPN 2 Pulau Punjung, Ajak Pelajar Jauhi Bullying dan Tawuran

Berita Terbaru