Jon Hendri Dt. Sutan Dilangik Harapan Baru Nagari Koto Sani

- Jurnalis

Minggu, 19 Juli 2026 - 19:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Oleh: A.Y. Manggulang Alam

utamapost.com– Sejarah mengajarkan bahwa setiap nagari memiliki cara sendiri untuk bangkit dari berbagai ujian. Ada yang bertumpu pada kekayaan alamnya, ada yang mengandalkan kekuatan sumber daya manusianya, dan ada pula yang menjadikan nilai-nilai adat sebagai fondasi dalam membangun masa depan. Nagari Koto Sani memiliki ketiganya. Yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang mampu menyatukan seluruh potensi tersebut menjadi sebuah gerakan bersama.

Pascabencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Solok pada akhir tahun 2025, masyarakat Koto Sani dihadapkan pada berbagai tantangan. Infrastruktur membutuhkan rehabilitasi, sektor pertanian harus dipulihkan, pelaku usaha kecil memerlukan dukungan, sementara generasi muda membutuhkan ruang untuk berkarya. Situasi seperti ini menuntut hadirnya pemimpin yang tidak hanya mampu mengelola pemerintahan, tetapi juga mampu membangkitkan optimisme masyarakat.

Dalam pandangan saya, salah satu sosok yang menarik untuk dicermati adalah Jon Hendri Dt. Sutan Dilangik. Ia dikenal sebagai tokoh adat yang dekat dengan masyarakat, memiliki jejaring komunikasi yang luas, dan memahami dinamika kehidupan nagari dari dekat. Kedekatan itu bukan sesuatu yang dibangun dalam waktu singkat.

Sejak masa mudanya, Jon Hendri telah berinteraksi dengan berbagai kalangan masyarakat. Jorong Limo Niniak, Jorong Kasiak dan Jorong Ujuang Ladang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, tempat ia tumbuh bersama beragam karakter pemuda. Dari lingkungan itulah ia belajar bahwa setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda, tetapi seluruh perbedaan itu dapat dipersatukan melalui musyawarah, rasa saling menghormati, dan semangat gotong royong yang menjadi ciri masyarakat Minangkabau.

Pengalaman sosial tersebut menjadi modal penting dalam membangun komunikasi dengan masyarakat. Seorang pemimpin yang memahami kehidupan masyarakat dari akar rumput akan lebih mudah mendengar aspirasi, merangkul perbedaan, dan menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan bersama.

Yang menarik, Jon Hendri tidak hanya berbicara tentang pembangunan fisik. Ia menawarkan sebuah gagasan yang berpijak pada identitas masyarakat Minangkabau, yaitu membangun ekonomi berbasis adat dan agama.

Bagi Jon Hendri, falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) bukan sekadar semboyan yang diucapkan dalam berbagai seremoni adat. Nilai tersebut harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam membangun sistem ekonomi masyarakat. Adat menjadi perekat persatuan, sedangkan agama menjadi pedoman moral agar setiap aktivitas ekonomi dijalankan dengan kejujuran, amanah, keadilan, dan tanggung jawab.

Gagasan ini lahir dari keyakinan bahwa kesejahteraan tidak dapat dibangun hanya dengan mengandalkan bantuan dari luar. Nagari harus mampu berdiri di atas kekuatan yang dimilikinya sendiri. Potensi pertanian, usaha mikro, sumber daya alam, tradisi, hingga jaringan perantau merupakan modal besar yang harus dioptimalkan secara bersama-sama.

Dalam konsep yang diusungnya, pembangunan ekonomi dimulai dari mengenali potensi unggulan nagari, mengembangkan sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat, memperkuat UMKM, membuka ruang bagi lahirnya wirausaha baru, serta membangun sistem ekonomi yang berlandaskan gotong royong.

Namun pembangunan ekonomi, menurutnya, tidak cukup hanya mengejar angka pertumbuhan atau peningkatan pendapatan. Pembangunan juga harus melahirkan masyarakat yang memiliki karakter, integritas, dan kepedulian sosial. Sebab kemajuan ekonomi tanpa moral hanya akan melahirkan ketimpangan, sedangkan pembangunan yang berlandaskan nilai-nilai adat dan agama akan menciptakan keseimbangan antara kesejahteraan material dan kehidupan sosial yang harmonis.

Karena itu, Jon Hendri memandang seluruh unsur masyarakat memiliki peran strategis. Kerapatan Adat Nagari (KAN), Bundo Kanduang, para ulama, cadiak pandai, Karang Taruna, kelompok tani, pelaku UMKM, hingga para perantau harus diposisikan sebagai mitra pembangunan. Ketika seluruh elemen bergerak dalam satu tujuan, pembangunan nagari akan memiliki pondasi yang jauh lebih kokoh.

Perhatian terhadap generasi muda juga menjadi bagian penting dari gagasannya. Baginya, pemuda bukan hanya penerus estafet kepemimpinan, tetapi pelaku utama perubahan. Kreativitas, inovasi, dan semangat kewirausahaan anak muda harus diberi ruang agar mampu menjadi penggerak ekonomi baru di Nagari Koto Sani.

Tentu saja, setiap gagasan memerlukan proses, kerja keras, serta dukungan masyarakat untuk diwujudkan. Tidak ada pemimpin yang mampu membangun nagari seorang diri. Keberhasilan hanya dapat dicapai melalui kebersamaan, musyawarah, dan partisipasi aktif seluruh masyarakat.

Ditengah berbagai tantangan yang masih dihadapi pascabencana, harapan akan lahirnya kepemimpinan yang mampu menyatukan adat, agama, dan potensi ekonomi masyarakat menjadi semakin relevan. Sebab pembangunan yang berkelanjutan bukan hanya tentang membangun jalan, jembatan, atau gedung, tetapi juga membangun manusia, memperkuat persaudaraan, serta menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh warga.

Komitmen itulah yang dirangkum Jon Hendri Dt. Sutan Dilangik dalam sebuah pandangan yang sederhana, namun sarat makna:

“Ekonomi berbasis adat dan agama bukan sekadar sebuah gagasan, tetapi merupakan konsep pembangunan yang akan saya implementasikan bersama seluruh elemen masyarakat. Ketika adat menjaga persatuan dan agama membimbing kejujuran serta amanah, Insyaallah potensi Nagari Koto Sani akan berkembang menjadi sumber kesejahteraan yang berkelanjutan bagi seluruh masyarakat.”

Pada akhirnya, masyarakatlah yang akan menentukan arah masa depan nagarinya. Namun setiap pemikiran yang mengajak masyarakat kembali bertumpu pada kekuatan lokal, memperkuat nilai adat dan agama, serta menghidupkan kembali semangat gotong royong patut mendapat ruang dalam diskusi publik. Sebab dari sanalah lahir harapan bahwa Nagari Koto Sani tidak hanya bangkit dari berbagai tantangan, tetapi juga tumbuh menjadi nagari yang maju, mandiri, berdaya saing, dan tetap kokoh menjaga jati dirinya sebagai bagian dari Ranah Minang.

Follow WhatsApp Channel utamapost.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Peringati HUT Rohil Ke-27, Konten Kreator Bagansiapiapi Sukses Gelar Panggung Hiburan Rakyat dan Tari Massal
Mayat Perempuan Tanpa Identitas Ditemukan Membusuk di Kawasan Damar Resto Solok
WARGA DAMA RESTO DIGEGERKAN PENEMUAN MAYAT PEREMPUAN
GEGER! Pengunjung Dama Resto Sirukam Dihebohkan Penemuan Mayat Perempuan, Sudah Mengeluarkan Bau Menyengat
Lestarikan Tradisi, Sasaran Silek Pangian Langkah Ampek Koto Hilalang Resmi Dibuka
TRAGIS! PENGENDARA YAMAHA XMAX TEWAS KECELAKAAN DI JALINSUM DHARMASRAYA
AMRJ Menunggu Balasan Surat, Kejaksaan Nyatakan Tak Ada Pidana
Calon Penghulu Bagan Jawa,Irwanto Undang Keluarga Besar, Galang Dukungan dan Gelar Do’a Bersama

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 23:54 WIB

Peringati HUT Rohil Ke-27, Konten Kreator Bagansiapiapi Sukses Gelar Panggung Hiburan Rakyat dan Tari Massal

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 17:48 WIB

Mayat Perempuan Tanpa Identitas Ditemukan Membusuk di Kawasan Damar Resto Solok

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 16:43 WIB

WARGA DAMA RESTO DIGEGERKAN PENEMUAN MAYAT PEREMPUAN

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 16:32 WIB

GEGER! Pengunjung Dama Resto Sirukam Dihebohkan Penemuan Mayat Perempuan, Sudah Mengeluarkan Bau Menyengat

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 11:48 WIB

Lestarikan Tradisi, Sasaran Silek Pangian Langkah Ampek Koto Hilalang Resmi Dibuka

Berita Terbaru