SUPAYANG, PAYUNG SEKAKI — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang acap kali menuntut imbalan, sebuah keteladanan sunyi bersemi di Nagari Supayang, Kecamatan Payung Sekaki. Dari sudut kampung ini, hadir sebuah ikhtiar tanpa pamrih dari seorang putra daerah yang memilih mendedikasikan hartanya demi kemaslahatan bersama.
”Saya bukan wakil rakyat, saya bukan pejabat, tetapi saya peduli masyarakat,” ungkapnya santai, Selasa 4/7/2026.
Kalimat spontan itu bukan sekadar kelakar, melainkan cerminan rasa tanggung jawab sosial yang mendalam—sebuah penegasan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tak selamanya harus menunggu amanat jabatan.
Bagi warga sekitar, janji manis atau ketukan birokrasi sering kali memakan waktu. Namun, di tangan sang dermawan, aksi nyata bergerak jauh lebih cepat daripada retorika. Tanpa kompromi dan tanpa menunggu waktu , ia merogoh kocek pribadinya demi membenahi infrastruktur jalan antar nagari.
Sejak Kamis pekan lalu, deru aktivitas mini excavator hasil pinjaman Pemda Kabupaten Solok tampak menghidupkan suasana jalan umum setempat. Bahan coran semen ia hadirkan untuk menambal lubang-lubang jalan yang selama ini mengganggu mobilitas warga.
Tak berhenti di situ, sebuah mushola kini juga tengah berdiri secara perlahan—sebuah bangunan ibadah yang kelak menjadi pusat spiritual dan tempat berpulang ketenangan jiwa masyarakat sekitar.
Jejak Kepedulian yang Tak Pernah Padam
Langkah sosial ini bukanlah cerita baru yang muncul mendadak. Jejak kepeduliannya telah lama mengakar. Publik Nagari Supayang tentu masih mengingat momen Idul Adha beberapa tahun lalu, ketika ia menyisihkan sebagian rizki yang dimilikinya untuk mendonasikan beberapa ekor sapi qurban. Kebahagiaan warga saat menerima paket daging qurban kala itu menjadi bukti betapa kehadirannya kerap menjadi penyejuk di tengah masyarakat.
Bagi sang dermawan, harta yang mengalir kembali ke masyarakat bukanlah sebuah kerugian, melainkan investasi yang sesungguhnya.
Dalam sebuah perbincangan hangat di sela-sela kesibukannya, ia sempat terdiam sejenak sebelum mengutarakan filosofi sederhana yang menjadi fondasi hidupnya.
”Hidup pasti ada matinya. Selagi napas masih dikandung badan, saya hanya ingin terus berbuat baik,” ucapnya lirih namun mantap.
Kalimat itu menegaskan bahwa seluruh langkahnya didasari oleh kesadaran mendalam akan hakikat kehidupan yang fana. Ia tidak sedang mengejar panggung politis, tidak pula sedang membangun citra. Yang ia bangun adalah jalan umum agar warga tak terjatuh, dan rumah ibadah agar doa-doa warga terus meliturgi ke langit.
Bantuan Pinjaman Excavator mini milik Pemda Kab. Solok untuk pengerukan drainase.
Di Nagari Supayang, ia telah membuktikan satu hal: untuk memberikan perubahan nyata bagi masyarakat, seseorang tak perlu menunggu mahkota atau kursi kekuasaan. Cukup sebuah hati yang tergerak oleh rasa kemanusiakemanusiaan.










