” Objek wisata pesisir pantai kawasan Mandeh kembali jadi sorotan publik. Tempat wisata yang mestinya dibalut dengan keramah tamahan menyambut tamu malah berganti ucapan nada tinggi dan kata kasar “
Mandeh, utamapost.com | Entah siapa yang salah…ku tak tau.., Bait lagu yang sedang tren di tiktok tersebut sepertinya pas dengan kondisi objek wisata taluak marunggai mandeh pesisir.
Pasalnya salah seorang penjaga pintu masuk objek wisata tersebut sontak keluarkan nada tinggi dan kasar disaat perwakilan tamu coba tawar harga tiket masuk area wisata taluak marunggai Minggu 22/06/2025.
Kejadian tersebut diawali rombongan touring motor asal Solok hendak menepi dan beristirahat di Taluak Marunggai, salah satu rombongan pun bertanya dan mencoba menawar harga tiket masuk yang sudah dibanderol 10.000 per kepala kepada salah seorang petugas.
” Bang…kan biasanya tiket masuk 5000 perorang atau 10.000 permotor, kita udah biasa segitu kok ” kata KG ( nama samaran ) rombongan pemotor yang juga putra asli Pesisir Selatan.
Dengan nada santai dan sopan petugas jaga pintu masuk jawab
” Dulu iya bang, tapi sekarang sudah naik ” ucapnya.
Tak disangka dalam kesempatan yang sama, pria yang diduga pemilik kawasan wisata datang tiba tiba dari belakang dengan wajah sangar dan emosi.
” Kalau sanggup bayar silahkan masuk, kalau tidak sanggup silahkan pergi dan cari tempat lain ” kata lelaki penuh nada bengis yang belum diketahui identitas aslinya.

Seketika itu rombongan touring motorpun berbalik arah setelah dihadiahi Katan Dak bakarambia/ minang.red oleh pemilik wisata Taluak marunggai dan mencari tempat dimana mereka bisa melepaskan penat sejenak.
Dalam dunia pariwisata, pelayanan yang ramah dan sopan bukan hanya menjadi nilai tambah, melainkan sebuah keharusan. Pemilik tempat wisata memiliki peran penting dalam menciptakan kesan pertama yang baik kepada setiap pengunjung. Sopan santun dalam melayani tamu mencerminkan kualitas pelayanan dan menjadi cerminan budaya serta kepribadian daerah setempat.
Ketika pemilik atau pengelola tempat wisata mampu menyambut tamu dengan senyuman, tutur kata yang santun, dan sikap yang bersahabat, maka pengunjung akan merasa dihargai dan nyaman selama berada di lokasi tersebut. Hal ini akan menciptakan pengalaman yang menyenangkan dan meningkatkan kemungkinan mereka untuk kembali di lain waktu atau merekomendasikan tempat tersebut kepada orang lain.
Sebaliknya, sikap yang acuh tak acuh, kasar, atau tidak ramah dapat merusak citra tempat wisata, bahkan mengurangi minat wisatawan untuk datang kembali. Dalam era digital saat ini, satu ulasan negatif dapat tersebar luas dan berpengaruh besar terhadap reputasi tempat wisata tersebut.
Oleh karena itu, penting bagi setiap pemilik dan pengelola tempat wisata untuk menanamkan nilai-nilai kesopanan dalam interaksi sehari-hari. Tidak hanya kepada tamu lokal, tetapi juga kepada wisatawan mancanegara yang datang dengan berbagai latar belakang budaya. Melayani dengan hati, menghargai setiap tamu, dan menjaga tutur kata adalah kunci utama dalam membangun industri pariwisata yang ramah dan berkelanjutan. ( Abd21 )










