Torang Sari Bulan , Limapuluh Kota –utamapost.com | Pernyataan tersebut disampaikan Fasilitator BPBD Kabupaten Lima Puluh Kota, M. Rinaldi Yulianto, kepada seluruh peserta kegiatan pembinaan relawan yang ikut dalam Outdoor Experience Darel Ilmi Sumatera Barat , Sabtu 15/11/2025.
Menurutnya peran relawan sangat penting dalam mengurangi risiko bencana, dengan memahami dan mengenali potensi bahaya di daerah masing-masing. Pemahaman awal ini menjadi dasar penting dalam upaya mitigasi dan respon bencana di lapangan.
Dalam arahannya, Rinaldi mengingatkan bahwa relawan harus sangat berhati-hati dalam menangani korban di lokasi kejadian. Posisi korban tidak boleh diubah secara sembarangan, kecuali setelah melihat kondisi dan memastikan perubahan posisi tidak menimbulkan risiko tambahan.
“Usahakan proses evakuasi dilakukan dalam posisi korban sebagaimana pertama kali ditemukan. Jika terdapat indikasi patah tulang atau cedera serius, gunakan peralatan bidai untuk mengurangi risiko cedera yang lebih parah,” tegasnya.

Rinaldi menambahkan bahwa para relawan bukan tenaga medis sehingga tindakan yang diberikan sebatas pertolongan pertama untuk memastikan korban tetap selamat hingga tiba di titik evakuasi atau ke tenaga medis profesional.
“Relawan tidak boleh membiarkan korban tertidur bahkan sampai berubah menjadi pingsan. Seringkali penanganan laka lantas tidak mengikuti SOP, korban dibawa tergesa gesa naik mobil pick up dengan kondsisi dipaksakan, padahal kondisinya perlu penanganan awal, akhirnya kondisi korban menjadi lebih parah. Pihak medis yang menangani korban tidak akan ” Speak Up ” Tegas Rinaldi.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam kondisi emergency tingkat tinggi, berbagai kemungkinan tindakan boleh dilakukan dengan catatan tidak memperparah keadaan korban. Namun, relawan harus tetap mengutamakan prinsip kehati-hatian.
“Merubah posisi korban secara tergesa-gesa justru berpotensi memperburuk kondisi. Dalam beberapa situasi, relawan bahkan tidak perlu menggeser korban sampai tim medis tiba,” tambahnya.
Kegiatan pembinaan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan relawan dalam penanganan awal di lokasi bencana sehingga upaya penyelamatan dapat berjalan lebih cepat, aman, dan sesuai standar.
Beberapa SOP Umum BPBD dalam Penanganan Korban Bencana
1. Penilaian Keamanan Lokasi (Safety First)
Pastikan area aman dari ancaman lanjutan (longsor susulan, bangunan runtuh, aliran listrik, banjir).
Jika lokasi tidak aman, segera pindahkan diri dan korban hanya bila keselamatan sangat terancam.
2. Pemeriksaan Awal Korban
Cek respons: sadar/tidak sadar.
Periksa napas dan denyut nadi.
Identifikasi adanya perdarahan, patah tulang, atau cedera berat.
3. Prinsip Penanganan Pertama
Jangan mengubah posisi korban kecuali untuk menyelamatkan nyawanya.
Jaga kestabilan kepala, leher, dan tulang belakang.
Hentikan perdarahan menggunakan pressure bandage.
Gunakan bidai jika diduga patah tulang.
Jaga korban tetap hangat dengan selimut darurat.
4. Menjaga Korban Tetap Sadar
Ajak berbicara ringan.
Jangan biarkan korban tertidur kecuali atas instruksi medis.
Awasi perubahan kondisi: mulai dari sadar → linglung → pingsan.
5. Prosedur Evakuasi
Evakuasi hanya dilakukan bila aman.
Gunakan teknik angkut yang sesuai (fireman carry, tandu, drag method).
Jangan mengangkat korban dengan cedera tulang belakang tanpa alat bantu.
6. Komunikasi dan Koordinasi
Laporkan kondisi korban ke Posko BPBD.
Catat perubahan kondisi apa pun.
Ikuti instruksi komandan lapangan (Kalaksa/Koordinator Rescue).
7. Serah Terima ke Tim Medis
Berikan laporan singkat mengenai:
kondisi awal korban
tindakan pertolongan pertama yang telah diberikan
waktu ditemukannya korban perubahan kondisi selama evakuasi.










