Tegal //utamapost.com – Inovasi teknologi untuk mewujudkan pelayanan publik yang inklusif terus dikembangkan.
Melalui Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (BESTARI-Saintek), sebanyak 40 relawan dari komunitas penyandang disabilitas rungu dan wicara dilibatkan dalam pengembangan bank video Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) sebagai fondasi teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung layanan darurat Call Center 112.
Upaya strategis tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pembuatan Bank Video Bersama Relawan Rungu dan Wicara Volume 2 yang dilaksanakan pada Minggu, 25 Oktober 2026.
Kegiatan ini diikuti anggota Komunitas DTLS (Dunia Tak Lagi Sunyi) dan Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) Kabupaten Tegal.
Program BESTARI-Saintek ini diinisiasi Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Dit. Minat Saintek), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), dengan dukungan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian riset bertajuk “Model Ekosistem Layanan Publik Inklusif: Pengembangan Call Center 112 sebagai Upaya Mewujudkan Akses Layanan yang Adaptif dan Aksesibel bagi Masyarakat Rentan.”
Pembuatan Bank Video Volume 2 menjadi langkah penting dalam memperkuat pengembangan sistem komunikasi darurat yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas rungu dan wicara.
Kegiatan ini melanjutkan empat tahapan program yang sebelumnya telah dilaksanakan, yakni Pembuatan Bank Video Volume 1 bersama relawan rungu dan wicara, Workshop Penyusunan SOP Inklusif, Penyusunan Modul Pelatihan Petugas Layanan Inklusif, serta Pelatihan Bahasa Isyarat bagi operator dan petugas pelayanan publik di lingkungan Pemerintah Daerah.
Keempat kegiatan tersebut dirancang secara sistematis dan saling terintegrasi untuk membangun fondasi ekosistem layanan publik darurat yang inklusif, aksesibel, serta responsif terhadap kebutuhan penyandang disabilitas.
Berbeda dengan pelaksanaan Volume 1 yang lebih berfokus pada pengenalan dan dokumentasi awal, kegiatan Volume 2 diarahkan untuk memperdalam sekaligus memperluas bank data video berbasis BISINDO.
Menariknya, para peserta dari komunitas DTLS dan Gerkatin tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga dilibatkan sebagai kreator konten utama.
Keterlibatan langsung ini menjadi bagian penting untuk memastikan data video yang dikembangkan benar-benar merepresentasikan bahasa isyarat dan kebutuhan komunikasi komunitas tuli.
Materi video yang diproduksi mencakup simulasi pelaporan kondisi darurat, penyampaian kebutuhan medis, situasi bencana, hingga berbagai skenario kegawatdaruratan yang kerap dihadapi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Seluruh konten tersebut selanjutnya akan menjadi dataset pelatihan bagi sistem kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang dikembangkan untuk menerjemahkan bahasa isyarat ke dalam bentuk teks yang dapat dipahami operator Call Center 112.
Melalui teknologi tersebut, penyandang disabilitas rungu dan wicara diharapkan dapat menyampaikan informasi ketika menghadapi situasi darurat tanpa terkendala hambatan komunikasi.
Dengan demikian, akses terhadap pertolongan dapat berlangsung lebih cepat, tepat, dan setara.
Kegiatan ini turut dihadiri Ketua Tim Riset BESTARI-Saintek, Akhmad Habibullah, M.I.P., bersama anggota tim dari Universitas Pancasakti Tegal, yakni Dra. Sri Sutjiatmi, M.Si., Dr. Dien Novianty, M.M., dan Deddy Prihadi, S.E., M.Kom.
Kolaborasi lintas perguruan tinggi juga diperkuat melalui kehadiran Haries Anom Susetyo Aji Nugroho, M.Kom., dari Universitas Bhamada Slawi, serta Bambang Irawan, M.Kom., dari Universitas Muhadi Setiabudi.
Sinergi tiga perguruan tinggi tersebut mencerminkan komitmen bersama dalam menghadirkan inovasi berbasis sains dan teknologi yang tidak hanya berorientasi pada kemajuan digital, tetapi juga mengedepankan nilai kemanusiaan, kesetaraan, dan inklusivitas.
Melalui pengembangan Bank Video BISINDO, BESTARI-Saintek berupaya menghadirkan wajah baru pelayanan publik yang semakin adaptif terhadap keberagaman kebutuhan masyarakat.
Lebih dari sekadar pengembangan teknologi, program ini membawa pesan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk memperoleh perlindungan, pelayanan, dan pertolongan dalam keadaan darurat.
Sebab, teknologi sejatinya bukan untuk menciptakan batas, melainkan menjadi jembatan yang membuka akses dan menghadirkan kesetaraan bagi semua.










