
Pertama
Saya harus mengucapkan dulu turut berbela sungkawa atas jatuhnya korban pendaki gunung asal Brazil, Juliana Marins berusia 27 tahun . Yang jatuh kedalam jurang sedalam 600 meter di Gunung Rinjani Lombok. Jenazah baru bisa dievakuasi, hari rabu 25 juni 2025. Setelah proses Search and Rescue selama 5 hari. Sejak hari Sabtu 20 juni 2025. Semoga korban diterima di sisi Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi musibah ini.
Kedua
Ingin memberikan tanggapan, sehubungan dengan berita2 di medsos, yang mayoritas menyudutkan pihak team SAR, dari pihak Basarnas, BPBD, relawan SAR, dll. Baik oleh netizen dari luar maupun dalam negeri. Dihubungkan dengan durasi waktu yang dibutuhkan untuk proses penanganannya, yang memakan waktu sampai 5 hari, dan dianggap lamban alias kelamaan.
Ungkapan netizen, seringkali sedemikian sadis dan memojokan team SAR. Bahkan sampai mengeluarkan kata kata yang tidak seharusnya. Mulai dari team SAR yang tidak kompeten sampai minta mereka ini dipecat dan dibubarkan sekalian.
Jujur, saya prihatin dengan semua ungkapan itu. Karena saya sebagai pelaku kegiatan SAR sejak 50 th yang lalu, di era th 70 an sampai sekarang, tahu persis tentang tantangan berat dalam setiap operasi SAR . Sehingga sungguh amat sangat tak patut semua kata cemoohan , yang bernada menghina dan merendahkan pada setiap personil elemen SAR tersebut.
Kami sebagai seorang Pecinta Alam, sejak dalam proses pendidikan dan latihan dasar, diberikan pengetahuan dan pemahaman tentang teori dan praktek SAR darat. Yang biasanya diberikan pada hari2 terakhir berlatih di base camp, sebagai muara dari seluruh ilmu berkegiatan di alam bebas.
Pengethuan SAR diberikan setelah siswa didik, mengikuti dulu seluruh pelajaran2 pendukungnya. Mulai dari Peta kompas ilmu medan, tali temali, P3K, mountain sickness, manajemen perjalanan, packing , repeling dan climbing di tebing, dll. Pokoknya semua mata pelajaran diberikan dulu, dan terakhir SAR, sebagai puncak dari seluruh hikmah dan manfaat ilmu.
Sebagai seorang Pecinta Alam yang notabene juga merupakan aktifis kegiatan SAR, harus tahu persis tentang bahaya dan seluruh resiko yang dihadapi. Baik bahaya yang bersifat dari luar ( external danger ), maupun dari dalam dirinya sendiri ( internal danger ).
External danger, berasal dari alam itu sendiri. Suatu hal yang mengedepankan hukum kompleksitas dan probabilitas. Seperti cuaca, ketinggian, suhu udara, kerapatan medan, kondisi medan, binatang buas, dll, yang seringkali bahkan tak mampu di prediksi sebelumnya, bisa ber ubah2 dalam fraksi jam atau menit.
Internal danger, bermula dari kesiapan diri. Seperti pengetahuan ( knowledge ), sikap mental ( attitude ). Keahlian spesifik ( Skills ), kebiasaan perilaku dan kondisi fisik ( habits dan Physical fitness ) ), penguasaan dan kepemilikan alat ( tools ) dan modal kerjasama team yang solid ( team work ).
Pemahaman kita tentang resiko dan bahaya diatas, menjadi modal awal untuk menjadi seorang petugas SAR, yang paham tentang fungsi dan tugasnya, demi pertolongan pada sebuah musibah di lapangan.
Alam, adalah sebuah medan beraktifitas yang tak tertaklukan. Kita tak akan mampu mengendalikannya, bahkan sekalipun kita memiliki perangkat teknologi. Melawan alam, hanya akan melahirkan fatalitas. Yang celaka bukan hanya survivor, namun juga bagi para rescuer nya. Karena bahkan para rescuer sekalipun , mereka tak kebal dengan musibah dan kecelakaan. Entah dari external maupun internal danger.
Bahwa prioritas team SAR adalah untuk memberikan pertolongan secepatnya pada survivor, tapi menjaga keselamatan individu dan team SAR juga berada pada level yang sama. Tidak hanya karena mereka digaji, lantas jadi mirip usaha bunuh diri. Apalagi bagi kami, yang tergabung dalam team SAR mandiri, alias dibiayai sendiri. Dimana semua kebutuhan alat dan logistik, diusahakan oleh sendiri.
Sebuah operasi SAR, tidak boleh mengandalkan pada perasaan semata. Hanya karena melihat keluarga korban menangis sedih. Atau tekanan dari pihak2 lain, layaknya netizen dan pemerhati lainnya, yang membuat team terlibat secara emosi, yang justru bisa menjebloskan team pada kondisi kedaruratan yang membahayakan, karena kehilangan fokus pada tugas dan tanggung jawab yang lebih esensial.
Apapun galaunya sang emosi, tetap harus mendahulukan logika. Membuat prediksi dengan hukum sebab akibat, sehingga memunculkan opsi antara mungkin dan tak mungkin, antara bisa dilakukan dan mustahil dikerjakan. Sekali lagi karena team rescue juga tak kebal pada kecelakaan dan musibah, apalagi pada yang radikal dan tak terduga karena perubahan tiba tiba.
Tepat di Gunung Rinjani, hal itu terjadi. Penghujatan dan cemoohan disuguhkan pada team SAR yang sedang berjuang mati matian, mencari cara yang aman untuk penyelamatan survivor. Ditengah tantangan alam dengan cuaca tak bersahabat. Dengan medan yang tak main main. Di ketinggian, dimana oksigen berkurang, pada suhu dingin menusuk tulang, diantara hembusan angin badai yang bisa menghempas seseorang kedalam jurang menganga di kiri dan kanan.
Hujan badai membuat pakain basah kuyup, dan hipotermia bisa mengancam. Hipoksia bisa membuat kepala pening serasa berputar. Medan pasir, bisa membuat longsoran dadakan.
Sebelumnya, team SAR harus berjalan dari pos Sembalun ke titik Last Stand Point, atau lokasi terakhir kali dilihat. Selama 9 jam, sekalian harus membawa barang bawaan alat2 pertolongan. Dalam ransel yang beratnya masing2 tak akan kurang dari 20 kg. Ini sangat menguras tenaga, padahal begitu sampai di lokasi mereka harus segera beraksi membuat langkah2 pertolongan. Sekali lagi, digendong manual bung, tak ada angkot atau ojeg. Kelelahan awal ini sudah menjadi internal danger tersendiri.
Ditengah semua bahaya tadi, berikutnya team rescue harus turun ke jurang vertikal, sedalam 600 meter. Coba bayangkan panjang enam 6 kali lapangan sepakbola, kemudian tegakan di posisi berdiri. Setara dengan 5 X tinggi tugu monas. Itulah kedalaman jurangnya. Yang takut ketinggian bisa terkencing kencing ketakutan.
Jurang dalam itu berupa celah di lerengan. Tiupan angin kencang / badai kedalam celah, bisa membuat turbulen. Menerbangkan helicopter pada medan dan kondisi cuaca semacam itu, artinya bunuh diri. Karena badan pesawat bisa tak terkendali, dan menabrak dinding tebing. Persis seperti kejadian jatuhnya pesawat heli Bell di lembah Ciherang Burangrang th 2001 yang lalu, yang juga “terhisap” turbulen di lembah.
Rotasi baling baling juga bisa menerbangkan debu ke udara. Sekali debu terhisap masuk ke mesin propeler, maka mesin bisa mati mendadak, dan heli jatuh ke bumi.
Medan Rinjani terdiri dari pasir dengan campuran batuan rapuh. Cenderung terbuka tanpa pepohonan. Jalur pendakian pada bibir tebing kaldera yang sempit. Hasil letusan dahsyat Gn Samalas ( pra Rinjani ) pada tahun 1257 M. Ketidaan pohon untuk tautan tali, maka harus dibuat dulu anchor. Karena tanpa anchor maka tali kernmantle akan menggesek batuan di tepian tebing, dan bisa memutuskan tali, yang tidak tahan gesekan.
Di Rinjani dibuat 2 anchor, satu dipunggungan, dan satu lagi dikedalaman 400 meter. Sebelum menjangkau korban di kedalaman 600 meter. Membuat anchor tak mungkin di tebing vertikal. Maka harus dicari dulu teras menjorok selebar 3 meteran. Agar anchor kedua bisa dipasang, dan di ikat kokoh pada batuan di teras datar tadi.
Jurang sedalam 600 meter, sedang panjang tali kernmantle rata2 sekitar 100 – 200 meteran. Artinya ada simpul sambungan tali di tengah tengah nya. Simpul ini bendulan besar, yang tak akan masuk pada lubang karabiner atau descender. Artinya siapapun yang melakukan repelling anda harus pindah jalur, dari satu tali ke tali dibawahnya. Momen pindah jalur sangat kritis, karena sedikit saja anda melakukan kesalahan, maka anda akan jatuh fatal terbanting ke dasar jurang.
Medan berpasir, tak mudah untuk dituruni. Karena setiap kali kaki anda memijak pasir, hal itu bisa menimbulkan longsoran, berupa pasir dicampur batuan lepas. Mulai dari sebesar kelereng, kepalan tangan, buah kelapa, atau lebih besar lagi. Hal ini bisa membahayakan survivor dibawahnya, yang jika tertima longsoran pasir dan batu, bisa membuat cederanya tambah parah. Sehingga personil yang turun kebawah jumlahnya sangat dibatasi, agar tidak terjadi longsoran besar dan membuat survivor terseret jatuh semakin kebawah.
Rapuhnya tebing pasir batu yang mudah longsor ini, diperlihatkan ketika posisi awal survivor pertama di kedalamaan 400 meter. Kemudian besoknya jatuh terseret ke kedalaman 600 meter.
Tambahkan lagi cuaca hujan badai di ketinggian, membuat jarak pandang hanya tingggal beberapa meter saja. Baju basah, tubuh basah, ransel basah, tali basah dan lebih licin, sehingga penurunan ( repelling ) harus ekstra hati hati. Sungguh perjuangan 7 orang rescuer yang turun kejurang itu harus kita beri apresiasi.
Ketika jenazah sudah di wraping, kemudian masuk ke proses lifting, atau ditarik naik kepunggungan. Personil yang harus dinaikan 7 orang, plus jenazah, atau 8 tubuh, yang jika rata2 bobot mereka 70 kg saja, maka total bobot yang harus di lifting seberat 560 kg, setengah ton lebih. Ditarik secara manual oleh team di atas, dengan sistem regu bergantian. Sementara opsi naik hanya dengan menggunakan ascender, akan terlalu menguras tenaga dan memakan waktu yg sangat lama.
Namun. tak mungkin ditarik semuanya keatas bersamaan, karena resiko anchor tak akan kuat menahan beban dan bisa jatuh kedalam jurang. Sehingga mereka harus ditarik naik bergantian, per 3 orang, atau dengan bobot di lifting 200 kg per sesi, total 3 sesi. Jika untuk menaikan beban butuh waktu 20 detik / meter, dari jurang sedalam 600 meter. Akan butuh waktu 200 menit atau sekitar 3,5 jam persesi. Sehingga secara logika total waktu untuk menaikan survivor dan seluruh rescuer ke punggungan, akan butuh waktu selama 10 – 12 jam an, alias dari pagi sampai sore.
Saat jenazah bisa dinaikan ke punggungan, semua bernapas lega. Karena setidaknya bagian yang paling ber resiko dan berbahaya sudah dilewati. Tinggal di gotong bergantian ke Sembalun oleh porter.
Tolong sebutkan, di momen bagian mana, yang membuat team SAR bisa ber leha-leha. Seraya bersikap lambat, kecuali harus menghitung setiap kemungkinan beserta seluruh resikonya. Karena setiap detik, setiap menit setiap jam adalah ikhtiar. Demi untuk menyelamatkan survivor dan team SAR sendiri. Yang sudah ditunggu oleh anak dan istrinya dirumah.
Pada saat yang sama.
Terdapat kejadian lain di Gunung Salak bogor. Seorang pria bernama Ayon, berusia 60 th juga dilaporkan hilang. Selama 2 hari team melakukan operasi SEARCH. Operasi ini seperti mencoba menemukan jarum dalam tumpukan jerami, karena sulit. Dimulai dengan penyapuan model open grid, sampai menemukan jejak survivor. Kemudian model sweeping dirubah ke close grid, agar lebih seksama.
Akhirnya korban berhasil ditemukan di tebing curam sedalam 60 meter. Evakuasi dilakukan dengan cara lowering / diturunkan sepanjang aliran air. Kebalikan dengan evakuasi di Rinjani dengan metoda lifting, atau dinaikan kembali ke punggungan.
Survivor yang berjalan turun gunung sendiri, nampaknya terperosok dan jatuh kedalam jurang. Padahal menurut penuturannya survivor sering berjalan mendaki ke lokasi tersebut. Sehingga seharusnya sudah sangat mengenal medan. Namun hukum ketidak pastian, kembali merenggut nyawa manusia.
Sekaligus meneguhkan kembali sebuah fakta, bahwa yang berbahaya itu bukan naik gunung, namun justru saat turun gunung. Karena kalau naik terus dan berjalan nanjak, maka pasti anda akan sampai ke puncak ketinggian. Namun saat anda menuruni gunung, anda bisa sampai ke dusun terdekat, anda bisa tersesat masuk hutan gelap, anda bisa kejeblos masuk jurang dan tertipu lembah dalam.
Sekaligus meneguhkan kembali sebuah fakta, bahwa yang berbahaya itu bukan naik gunung, namun justru saat turun gunung. Karena kalau naik terus dan berjalan nanjak, maka pasti anda akan sampai ke puncak ketinggian. Namun saat anda menuruni gunung, anda bisa sampai ke dusun terdekat, anda bisa tersesat masuk hutan gelap, anda bisa kejeblos masuk jurang, anda bisa tertipu masuk kedalam lembah.
Cuaca lembab dan basah , baju kuyup di sungai dasar lembahan. Naik lagi ke atas mustahil karena telampau terjal. Seraya terjebak didalam. Bahan bakar, korek semua basah, api tak bisa dinyalakan. Maka selamat tinggal sang kehidupan, ketika hipotermia datang mengergap perlahan, dan besok anda harus dipulangkan didalam kantung mayat.
Al fatihah untuk pak Ayon, dan semoga keluarganya diberi ketabahan.
Sedang bagi mereka yang masih saja nyinyir menyepelekan kegiatan operasi SAR
Saya ingin mengundang anda sekalian, untuk sesekali ikut operasi SAR di belantara betulan, barang sehari dua hari saja. Supaya anda mendapatkan gambaran yang gamblang dan nyata, tentang realitas simbahan keringat, yang kadang bercampur kucuran darah dari luka. Bukan hanya sekedar ilusi dan berteori, hasil tontonan dari film-film lebay ala India, yang menjadi serba mudah di gampang2 kan.
Untuk ibu menteri pariwisata. Sebaiknya siapapun yang ingin berwisata ke medan ekstrim, harus ada pembatas nya. Jangan karena hanya ingin mendapatkan uang pemasukan, lantas ijin menjadi serba dimudah mudah kan. Padahal setiap lokasi punya carryng capacity nya masing masing. Yang jika dilampaui, maka bencana dan kerusakan lingkungan hanya tinggal menunggu.
Bagi pendaki amatiran, jangan sok-sokan. Alam, gunung dan hutan, bukan taman bermain. Dimana segalanya serba terkendali dan aman. Semua itu butuh persiapan, pendidikan, pelatihan dan jam terbang. Karena setiap kecerobohan dan kelalaian, bisa membuat orang sekampung, sekota, bahkan kini senegara menjadi kerepotan.
Pada setiap momen penulis pamit
pada istri untuk operasi SAR. “ Mah, Bapa pamit pergi, doa kan ya “ sambil kucium keningnya. Seringkali dia sulit menjawab mengeluarkan kata kata. Tapi penulis tahu, pada matanya yang ber kaca kaca, ada ke khawatiran.
Dia paham, Ini bukan perjalanan ke mall di kota, bukan holiday ke bali atau jogya, bukan ke stadion untuk sekedar nonton bola. Karena suami harus memasuki medan sulit yang penuh dengan ke tidak pastian. Yang bisa saja merubah sang penolong, menjadi korban yang harus ditolong , sang rescuer menjadi survivor
Tapi kami sadar, bahwa ini tugas kemanusiaan. Memberi pertolongan pada mereka yang membutuhkan semampunya. Sekalipun tanpa bayaran, tanpa imbalan, tanpa tepuk tangan.
Karena di setiap dada kami, selalu tertulis …
AVIGNAM JAGAT SAMAGRAM ….
Selamatlah apa yang ada di muka bumi.
BRAVO TEAM SAR INDONESIA
( Yat Lessie ) red.
Sumber Fb Yat Lessie










