Indragiri Hulu — Seorang warga Desa Sungai Parit, Kecamatan sungai lala, Kabupaten Indragiri Hulu, mengeluhkan perilaku tidak menyenangkan dari seorang dokter berinisial FP di Puskesmas setempat. Dokter tersebut diduga membentak pasien dan keluarganya saat mereka meminta surat rujukan untuk pengobatan lanjutan di rumah sakit.
Peristiwa ini dialami oleh Joko Subandi, pasien yang mengeluhkan sakit pada matanya mendatangi puskesmas setempat pada Sabtu (3/5)
Sang Ibu ,Juminah, menceritakan bahwa saat ia menjelaskan kondisi anaknya dan meminta surat rujukan ke RSUD, Oknum dokter tersebut terkesan bereaksi kasar.
“Saya cuma bicara baik-baik soal kondisi anak saya, tapi malah dibalas dengan bentakan. Bahkan dokter itu bilang sakit mata anak saya tidak bisa sembuh karena sudah lama, dan percuma dirujuk ke RSUD, ujar Juminah . ” Anak ibuk ini tidak akan bisa sembuh untuk apa di rujuk ke RSUD nggak kan bisa sembuh, tapi kalau ibuk maksa saya juga berikan surat rujukan nanti saya kasih paling nanti juga hanya di kasih obat tetes aja disana, dengan nada tinggi Juminah sambil menirukan dokter pada Sabtu (3/5)..
Pernyataan dokter FP tersebut tidak hanya mengejutkan keluarga pasien, tetapi juga dinilai meruntuhkan semangat mereka untuk melanjutkan pengobatan. Dalam kejadian itu, dokter bahkan tidak memberikan obat sementara, yang dinilai sebagai bentuk kurangnya empati terhadap pasien.
Seorang warga berinisial S membenarkan bahwa sikap dokter tersebut kerap menjadi bahan keluhan masyarakat. “Ini bukan pertama kalinya. Sudah sering warga mengeluh soal sikap beliau.
Menurut pengakuan keluarga pasien, ini merupakan kali kedua mereka mendapat perlakuan serupa dari dokter yang sama. Pada kesempatan sebelumnya, mereka juga ditolak saat meminta surat rujukan, namun ketika mencoba minta ke dokter lain yang juga bertugas di puskesmas yang sama, surat tersebut langsung diberikan tanpa kendala.
Keluarga pasien kini mendesak Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu untuk turun tangan dan melakukan evaluasi terhadap pelayanan di Puskesmas Sungai Parit. Mereka menilai perilaku dokter tersebut berpotensi melanggar etika profesi dan mencederai semangat pelayanan kesehatan yang seharusnya mengedepankan empati dan profesionalisme.
Sampai berita ini di muat media belum bisa berhasil untuk konfirmasi ke dokter yang bersangkutan, namun awak media tetap berupaya. (Iin)










