Khawatir Kampung Pili Hilang dari Peta, Masyarakat Adat Kubang Putiah Tolak Trase Tol Sicincin-Bukittinggi

- Jurnalis

Minggu, 12 Juli 2026 - 19:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

AGAM –utamapost.com |Ratusan warga bersama unsur elemen masyarakat Nagari Kubang Putiah, Kecamatan Banuhampu, Kabupaten Agam, menggelar aksi damai untuk menyampaikan aspirasi penolakan terhadap rencana trase pembangunan jalan tol Sicincin-Bukittinggi yang melintasi wilayah mereka.

​Aksi ini diikuti oleh seluruh elemen masyarakat, mulai dari niniak mamak, Kerapatan Adat Nagari (KAN), alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, pemuda, hingga tokoh masyarakat setempat.

​Masyarakat menegaskan bahwa gerakan ini sama sekali bukan bentuk penolakan terhadap pembangunan infrastruktur nasional. Sebaliknya, warga mendukung penuh program pemerintah yang bertujuan meningkatkan konektivitas dan pertumbuhan ekonomi. Namun, mereka meminta pemerintah mengevaluasi kembali jalur (trase) tol yang dinilai akan menimbulkan dampak sosial, budaya, dan adat yang sangat besar.

​Minim Musyawarah dan Ancaman Hilangnya Satu Jorong

​Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Kubang Putiah, Siswandi Dt. Maleka, menyayangkan penetapan jalur jalan tol yang terkesan mendadak dan tanpa proses musyawarah yang memadai dengan masyarakat adat maupun warga yang terdampak langsung.

​”Pada dasarnya kami tidak pernah menghalang-halangi pemerintah dalam melaksanakan pembangunan. Tetapi masyarakat yang akan dilalui jalur jalan tol ini menerima keputusan secara mendadak, tanpa adanya kompromi dan musyawarah terlebih dahulu. Seharusnya pemerintah melakukan kajian secara menyeluruh karena dampak yang ditimbulkan sangat besar,” ujar Siswandi.

​Dari total 14 jorong yang ada di Nagari Kubang Putiah, sebanyak sembilan jorong diprediksi akan terdampak langsung, dan tiga jorong di antaranya terancam terbelah oleh jalur tol. Bahkan, situasi paling mengkhawatirkan menimpa Jorong Kampung Pili, yang terancam hilang dari struktur administrasi pemerintahan nagari karena hampir seluruh wilayahnya masuk dalam proyeksi pembangunan.

​”Yang paling kami khawatirkan adalah hilangnya Jorong Kampung Pili dari data administrasi pemerintahan. Ini bukan sekadar pembangunan jalan, tetapi menyangkut hilangnya sebuah komunitas yang telah hidup dan berkembang secara turun-temurun,” tambahnya.

​Efek Domino terhadap Tatanan Adat Minangkabau

​Hingga saat ini, masyarakat menilai belum ada kajian komprehensif mengenai dampak sosial dan adat yang akan muncul jika trase tersebut tetap dipertahankan. Proyek strategis nasional ini dikhawatirkan tidak hanya menggusur fisik bangunan, tetapi juga merusak tatanan kehidupan masyarakat adat Minangkabau yang sangat memegang teguh kearifan lokal.

​Berdasarkan data yang dihimpun dari masyarakat, rencana trase jalan tol ini diperkirakan akan berdampak pada:

​Lebih dari 100 rumah warga tempat tinggal.

​2 unit musala (tempat ibadah).

​4 lokasi pandam pekuburan kaum.

​Kawasan rumah gadang dan tanah ulayat.

​Lahan pertanian produktif yang menjadi sumber penghidupan utama warga.

​Siswandi menekankan bahwa persoalan ini sama sekali bukan tentang besaran nilai ganti rugi uang. Tanah yang terdampak merupakan tanah ulayat atau pusaka tinggi. Berdasarkan hukum adat Minangkabau, tanah tersebut adalah milik komunal yang diwariskan kepada anak kemenakan secara turun-temurun dan tidak dapat dipandang semata-mata sebagai aset ekonomi.

​”Kampung akan terbelah. Rumah adat akan hilang, pandam pekuburan kaum terdampak, tanah ulayat berkurang, lahan pertanian produktif hilang. Semua itu akan menimbulkan efek domino terhadap kehidupan masyarakat, baik dari sisi sosial, budaya, ekonomi maupun adat istiadat,” tegasnya.

​Menuntut Dialog dan Solusi Alternatif

​Melalui aksi ini, masyarakat bersama para niniak mamak Nagari Kubang Putiah menyatakan menolak secara tegas trase jalan tol Sicincin-Bukittinggi yang melintasi kawasan nagari mereka. Mereka menuntut pemerintah untuk meninjau ulang jalur tersebut dan membuka ruang dialog yang inklusif dengan melibatkan masyarakat, pemerintah daerah, serta lembaga adat sebelum mengambil keputusan akhir.

​Saat dihubungi kembali melalui sambungan telepon, Ketua KAN Kubang Putiah kembali menegaskan bahwa solusi alternatif masih sangat terbuka lebar tanpa harus mengorbankan ruang hidup masyarakat.

​”Kami tidak menolak pembangunan jalan tol, akan tetapi lakukan lebih dahulu kajian mendalam dari berbagai aspek. Masih ada solusi lain, seperti mengalihkan jalur ke daerah yang tidak produktif dan tidak padat penduduk,” pungkas Siswandi menutup pembicaraan.

​Hingga berita ini diturunkan, tim redaksi masih terus berupaya menghubungi pihak-pihak terkait, termasuk pemerintah daerah dan pengembang proyek tol, untuk mendapatkan keterangan dan konfirmasi lebih lanjut mengenai tuntutan warga Nagari Kubang Putiah ini. ( abd21)

Follow WhatsApp Channel utamapost.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kapolda Jambi Salat Jumat Bersama Masyarakat, Ajak Perkuat Silaturahmi dan Jaga Kamtibmas
Dukung Kamtibnas, Kelompok Temenggung Roy Serahkan Tiga Pucuk Senjata Api Rakitan Ke Polsek VII Koto
RSUD Waled Jalani Penilaian Akreditasi, Optimistis Pertahankan Predikat Paripurna
Terobosan BESTARI-Saintek! 40 Relawan Tuli Kembangkan Teknologi AI untuk Layanan Darurat Call Center 112
Rawat Persaudaraan di Perantauan, DPP IPPSA Perkuat Konsolidasi Organisasi di Yogyakarta
Labfor Polda Jateng Selidiki Kebakaran Gudang Peleburan Aluminium di Kebasen, Empat Sampel Bukti Dibawa untuk Uji Laboratorium
Polisi Tangkap Pria Terduga Pelaku Pencabulan Anak di Bawah Umur di Pasaman Barat
Pemkab Solok Terima Bantuan dari Solok Saiyo Sakato (S3) untuk Korban Bencana Galodo di Arosuka

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 19:52 WIB

Kapolda Jambi Salat Jumat Bersama Masyarakat, Ajak Perkuat Silaturahmi dan Jaga Kamtibmas

Kamis, 5 November 2026 - 16:01 WIB

Dukung Kamtibnas, Kelompok Temenggung Roy Serahkan Tiga Pucuk Senjata Api Rakitan Ke Polsek VII Koto

Kamis, 5 November 2026 - 07:32 WIB

RSUD Waled Jalani Penilaian Akreditasi, Optimistis Pertahankan Predikat Paripurna

Kamis, 5 November 2026 - 07:01 WIB

Terobosan BESTARI-Saintek! 40 Relawan Tuli Kembangkan Teknologi AI untuk Layanan Darurat Call Center 112

Rabu, 4 November 2026 - 19:41 WIB

Rawat Persaudaraan di Perantauan, DPP IPPSA Perkuat Konsolidasi Organisasi di Yogyakarta

Berita Terbaru