SOLOK, utamapost.com – Kabupaten Solok tidak hanya terkenal dengan keindahan alamnya yang memukau, tetapi juga memiliki kekayaan kuliner tradisional yang menjadi ciri khas di hampir setiap nagari. Salah satunya adalah Samba Ambu Ambu, makanan khas yang berasal dari Nagari Guguak Sarai, Kecamatan IX Koto Sungai Lasi. Hidangan ini menjadi salah satu sajian wajib yang selalu hadir dalam acara adat masyarakat setempat, terutama dalam baralek manangah atau pesta adat besar.
Samba Ambu Ambu sekilas mirip dengan samba (masakan bersantan) pada umumnya, namun yang membedakannya adalah kelapa parut yang disangrai hingga hitam, lalu digiling halus sebagai bahan utama. Hidangan ini juga diisi dengan usus kambing yang telah direbus, nangka muda yang dipotong kecil, rebung bambu pucuk, serta ikan kering.

Proses memasaknya memerlukan ketelitian dan kesabaran. Santan dimasukkan ke dalam kuali, kemudian ditambahkan cabe giling, bumbu halus seperti bawang merah, bawang putih, serai, lengkuas, penyedap rasa, dan garam. Setelah itu, bahan utama dimasukkan satu per satu. Kelapa parut yang telah disangrai dimasukkan terakhir. Masakan terus diaduk hingga matang, ditandai dengan warna yang menghitam dan tekstur yang berminyak, sebelum akhirnya diangkat dan siap disajikan.
Menurut Ketua Bundo Kanduang Nagari Guguak Sarai, Bundo Murtina, Samba Ambu Ambu bukan sekadar makanan, tetapi juga warisan budaya yang memiliki filosofi mendalam. Salah satunya terlihat dari penggunaan kepala ikan kering yang tidak boleh dibuang. “Kepala ikan kering melambangkan seorang niniak mamak yang tidak boleh tergadai budinya dan harus konsisten dalam perbuatan,” jelas Bundo Murtina.

Ia juga menyebutkan, para bundo kanduang yang di Guguak Sarai dikenal dengan sebutan Rubiah, berperan aktif dalam menjaga kelestarian dan keberlangsungan kuliner tradisional ini. Mereka berharap generasi muda Nagari Guguak Sarai dapat mempelajari cara membuat Samba Ambu Ambu agar tidak lupa pada warisan budaya leluhur.
“Samba Ambu Ambu bukan hanya makanan, tetapi bagian dari identitas kami. Generasi muda harus tahu cara membuatnya, agar budaya ini tidak hilang ditelan zaman,” pungkas Bundo Murtina.
Dengan kelezatan dan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, Samba Ambu Ambu tidak hanya menjadi hidangan khas dalam acara adat, tetapi juga simbol kebersamaan dan kearifan lokal masyarakat Kabupaten Solok. ( Abd21 )










