Oleh : Wandra Syofi
Dalam kehidupan manusia, akal adalah anugerah yang membedakan derajatnya dari makhluk lain. Dengan akal, manusia mampu menimbang benar dan salah, halal dan haram, pantas dan tercela. Namun ketika akal dikalahkan oleh nafsu, maka kehormatan runtuh, jabatan kehilangan wibawa, dan kepercayaan publik hancur seketika, bahkan bisa dibilang manusia lebihbrendah dari binatang.
Dugaan perselingkuhan dan perilaku tak senonoh yang melibatkan pejabat aparatur sipil negara (ASN) bukan sekadar persoalan pribadi. Jabatan publik bukan hanya soal gaji dan kewenangan, tetapi amanah. Amanah adalah titipan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya oleh masyarakat, tetapi juga oleh Allah SWT.
Mereka yang berada dalam status pejabat seharusnya jadi cermin dan panutan. Dari segi intelektualitas meraka setingkat lebih tinggi dari masyarakat biasa, namun ketika akal mereka kalah oleh nafsu, cibiran dan cemoohan berhamburan.
Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…”
(QS. An-Nisa: 58)
Ayat ini menegaskan bahwa setiap amanah—termasuk jabatan dan kepercayaan publik—harus dijaga dengan integritas dan tanggung jawab moral.
Dalam ajaran agama, nafsu bukan untuk dimatikan, tetapi untuk dikendalikan. Ketika nafsu dibiarkan memimpin, ia akan membisikkan pembenaran atas setiap penyimpangan. Yang haram terasa wajar. Yang tercela terasa biasa, penyimpangan dan kesalahan dalam melaksanakan tugas menjadi hal biasa, Padahal Allah telah memperingatkan:
“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.”
(QS. Shad: 26)
Perselingkuhan bukan hanya pengkhianatan terhadap pasangan, tetapi juga pengkhianatan terhadap nilai kesetiaan yang dijunjung tinggi dalam agama. Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra: 32)
Ayat ini bukan hanya melarang perbuatan zina, tetapi juga melarang segala hal yang mendekatinya—termasuk hubungan terlarang dan perilaku tak senonoh yang membuka pintu maksiat.
Lebih jauh lagi, seorang pejabat publik seharusnya menjadi teladan. Nabi Muhammad bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar kekuasaan, tetapi tanggung jawab moral dan spiritual. Ketika seorang pemegang amanah tergelincir dalam perilaku tercela, maka yang tercoreng bukan hanya dirinya, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap institusi.
Kita hidup di zaman ketika informasi menyebar dalam hitungan detik. Sekali kehormatan ternoda, sulit untuk memulihkannya. Maka sebelum tangan bertindak dan sebelum langkah melangkah, seharusnya akal dan iman berdiri di depan sebagai penjaga.
Agama mengajarkan bahwa setiap manusia berpotensi tergelincir. Namun kemuliaan seseorang terletak pada kemampuannya menahan diri dan segera bertaubat ketika salah. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri.”
(QS. Al-Baqarah: 222)
Peristiwa ini seharusnya menjadi cermin bersama. Bahwa pendidikan, pangkat, dan status sosial tidak cukup tanpa pondasi moral yang kokoh. Bahwa godaan akan selalu ada, tetapi benteng iman harus lebih kuat dari dorongan sesaat.
Ketika akal dikalahkan nafsu, kehancuran hanya tinggal menunggu waktu. Namun ketika nafsu dikendalikan oleh iman, lahirlah pribadi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga bermartabat.
Semoga setiap pemegang amanah menyadari bahwa jabatan adalah ujian. Dan ujian terbesar bukan pada kekuasaan, melainkan pada kemampuan menjaga diri ketika kesempatan untuk menyimpang terbuka lebar.










